Sarapan Susu, Kurangi Nafsu Makan Hingga Risiko Diabetes

Bagi para penderita diabetes, pilihan sarapan dapat berpengaruh besar pada kesehatan tubuh sepanjang hari. Sarapan tepat dinilai dapat membantu menstabilkan gula darah sehingga membantu menurunkan risiko diabetes, di samping menjaga kesehatan para penderita diabetes.

Sebuah studi baru mengungkap, minum segelas susu yang tinggi protein dapat menjadi pilihan sarapan terbaik bagi penderita diabetes atau mereka yang berisiko tinggi mengidap diabetes.

Hal tersebut diungkapkan dalam penelitian yang terbit di Journal of Dairy Science tahun 2008. Peneliti menemukan bahwa susu tinggi protein bermanfaat untuk mengurangi risiko obesitas yang menjadi salah satu pemicu diabetes,dengan cara menurunkan nafsu makan berlebih.

Dr Doughlas Goff, penulis utama studi dari University of Guelph di Kanada meneliti efek minum susu protein tinggi bersama dengan sereal rendah gula. Hasilnya, sarapan susu dapat membantu menstabilkan kadar glukosa dengan cara menurunkan keinginan makan lebih banyak pada siang hari.

Menurut Goff, susu memiliki kandungan alami protein whey dan kasein. Setelah diminum, susu dapat melepas hormon lambung untuk memperlambat pencernaan sehingga menimbulkan rasa kenyang.

“Studi menegaskan bahwa susu menjadi penting saat sarapan untuk membantu pencernaan karbohidrat lebih lambat dan menurunkan kadar glukosa,” kata Goff dilansir dari Independet.

Protein whey, seperti yang dijelaskan pada studi tahun 2016 oleh ilmuwan dari Tel Aviv University, dinilai lebih efektif untuk mengendalikan gula darah ketimbang sumber protein lain seperti telur dan kedelai. 

Mengonsumsi protein whey saat sarapan juga bermanfaat mengurangi nafsu makan seseorang.

“Protein whey memberikan keuntungan jika dikonsumsi saat sarapan untuk penurunan berat badan, mengurangi rasa lapar, dan mengontrol lonjakan glukosa,” kata Dr Daniela Jakubowicz, Profesor kedokteran di Tel Aviv University.

Temuan Goff muncul tak lama setelah Asosiasi Pemerintah Daerah di Inggris mencatat terjadi peningkatan 40 persen kasus diabetes tipe 2 pada anak-anak sejak 2014, yang menurut para ahli sebagian besar disebabkan oleh epidemi obesitas akibat makanan cepat saji.

Public Health England juga merilis bahwa 22 ribu anak-anak di Inggris kini mengalami obesitas parah dan memiliki risiko besar mengidap diabetes tipe 2 bahkan kerusakan saraf dan stroke. Sehingga temuan Goff dianggap dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga nafsu makan berlebih dengan cara memilih jenis sarapan.[]

(Visited 4 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.