Jokowi, Jenderal Kardus, Jenderal Baper

Oleh:  Aji Bahroji

 

Rabu (8/8) Sore Tadi, Usai menikmati nyanyian Musikalisasi Puisi Sitor Situmorang oleh Ketua Umum IWO yang juga musisi Jodhi Yudono Di Rumah Gorga Toba Anjungan Sumatera Utara kami terlibat obrolan santai tentang dinamika politik di Tanah Air menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres). Kami teman-teman Ikatan Wartawan Online (IWO) merasa perlu mengisi ruang-ruang opini dengan menghadirkan kehangatan, kegembiraan dalam kontestasi Pilpres. Bersama mas Jodhi, saya berinisiatif memproduksi program musikalisasi yang disiarkan secara rutin. Mungkin saja mingguan atau bulanan, kita tunggu saja nanti. Tidak ada target ini kerja probono saja.

Bersantai ngobrol santai, datang kuncen Anjungan Sumatera Utara, Pak Tatan Daniel dengan gayanya low profile saya rasa anjungan anjungan daerah lain mesti belajar kepada sosok yang satu ini. Beliau lincah menghidupkan Anjungan SUMUT di tengah hegemoni Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang terus meredup. Hampir 2 jam lebih kami
berbincang-bincang tentang kesenian, kebudayaan dan kebhinekaan. Juga tentang industri kreatif dan atraksi budaya yang bisa kita jual dan menghasilkan nilai ekonomi. Pak Tatan Daniel dengan apik bercerita sejak 2011 kiprahnya menjadi kepala anjungan Sumatera Utara.

Ia telah mendatangkan banyak seniman, aktor, penulis higga arsitek. Hingga ia berkawan baik dengan redaktur-redaktur seni Media Nasional, termasuk perkenalannya dengan mas Jodhi yang masih aktif sebagai wartawan kompas.com

Obrolan dengan Pak Tatan lumayan panjang dan terus menyambung tentang kesenian, kebudayaan melayu yang kaya itu. Juga tentang kiprah kerajaan-kerajaan besar di Indonesia. Indonesia yang menakjubkan yang menyatu dengan segala perbedaan.

Maka, saat di bis saya membaca postingannya Sahabat saya Agung Herculess tentang batalnya rencana Kajian Hati dengan menghadirkan Felix Siauw di Mesjid Al Bantani, saya geregetan. Saya melihat acara ini bagus untuk edukasi masyarakat. Kenapa mesti dibatalkan dengan alasan penolakan beberapa gelintir orang. Jika khawatir akan ada ancaman penolakan dan bentrok, saya rasa negara harus hadir melindungi. Jika ada prasangka tokoh yang datang adalah ada alumni HTI yang biarkan saja, selama dia tidak makar. Jika terbukti makar ya tinggal jebloskan ke penjara.

Sebagai Orang Nahdlatul Ulama (NU), yang masih tahlilalan dan membaca kunut, saya banyak tidak sepakat dengan narasi-narasi Ustad Felix Siau. Sebagai simpatisan Presiden Jokowi, atas kerja-kerjanya dalam membangun Indonesia, saya juga tidak cocok dengan kampanye Kokoh Felix Siauw ganti Presiden. Tapi ya dialam demokrasi, konstitusi menjamin, kenapa mesti terganggu. Jika Alasan penolakan adalah siasat memanfaatkan mesjid untuk berpolitik, ya tidak papa. Kawan-kawan yang iri buat juga acaranya. Selama tidak melanggar aturan, ulah pundungan, aja kesinggung.

Dulur-dulur yang menolak bikin spanduk selapangan kapal, dulur-dulur yang sepakat boleh juga bikin spanduk segede lapangan bola, bebas-bebas saja. Sebagai Orang NU dan Simpatisan Jokowi atas kerja-kerjane saya menganjurkan bagi dulur-dulur aja galak-galak nolak Felix Siau. Apalagi dikait-kaitkan dengan Ganti Presiden. Lha Wong jauh sebelum ada pertengkaran antara Jenderal Kardus VS Jenderal Baper saya mau pindah dukungan kok. Kalau ada yang lebih baik dari Pak Jokowi.[]

(Visited 41 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.