Dari Srebrenica Genocida Museum: Kita Bisa Belajar Apa?

*Sebuah catatan perjalanan H. Embay Mulya Syarief

Srebrenica Genocida Museum, adalah tempat bersejarah pertama di Bosnia and Herzegovina yang dikunjungi. Sebuah tempat dimana ribuan anak manusia korban perang saudara tahun 1995 dikuburkan. Dari monumen yg memilukan kemanusiaan ini, tercatat sekitar 8732 nyawa sesama bangsa telah menjadi korban. Konon, baru sekitar 4 ribu lebih yang ditemukan dan dimakamkan di area ini,  selebihnya belum ditemukan.

Melalui pemutaran film, dokumen photo, dan hasil  tanya dari sumber yang berkompeten, tergali informasi untuk menjawab pertanyaan: mengapa peristiwa memilukan dan menyayat kemanusiaan itu bisa terjadi? Mengapa hanya berbeda etnis, agama dan pilihan politik, sesama anak bangsa  bisa saling membunuh dengan semena-mena? Mengapa manusia yang punya akal budi dan nurani bisa menjadi buas bahkan lebih buas dari Srigala?

Singkat cerita, peristiwa memilukan itu diawali saat Yugoslavia terpecah-pecah tahun 1991 setelah runtuhnya rezim Komunis Di Eropa Timur. Mengikuti jejak politik Kroasia dan Slovenia, pada bulan Maret 1992 Bosnia dan Herzegovina msnyatakan kemerdekaannya melalui referendum yang diikuti masyarakat Muslim dan Kroasia Bosnia. Hal tersebut ditentang oleh penduduk Serbia yang ingin menguasai seluruh eks-wilayah Yugoslavia.

Dibawah pimpinan Rodovan Karadzic, orang Serbia-Bosnia memproklamasikan berdirinya Republik Srpska. Dengan bantuan pasukan federal pimpinan Jenderal Ratko Mladic, orang Serbia-Bosnia berhasil menguasai kurang lebih 70% wiilayah negeri itu. Dalam konflik ini, etnis Serbia sebagai mayoritas, berusaha melenyapkan etnis muslim Bosnia dan Kroasia. Terjadilah pembantaian terbesar dalam sejarah yang jumlahnya hanya kalah oleh Perang Dunia. Pambunuhan, penyiksaan,  dan pemerkosaan oleh kaum Serbia kemudian menyebabkan pemimpin-pemimpin Serbia ditetapkan sebagai penjahat perang oleh PBB.

Setelah perang berdarah itu berlarut-larut, akhirnya perdamaian berhasil dipaksakan oleh NATO. Sesuai dengan KESEPAKATAN DAYTON tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan, namun negara tersebut di bagi ke dalam dua bagian: 51% wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Federasi Bosnia dan Herzegovina) dan 49% Serbia (Republik Srpska).

Kini negeri tersebut telah menghirup perdamaian dan ketiga belah pihak berusaha terus membangun sikap saling percaya. Sementara para penjahat perang, mantan Presiden Republik Srpska Radovan Karadzic  berhasil ditangkap  pada 21 Juli 2008 dan mantan Panglima Tentara Federal Jendral Ratko Mladic tertangkap pada bulan Mei 2011 untuk sama-sama dihadapkan di sidang Mahkamah Internasional.

Akan tetapi, semua informasi yang tergali kiranya tidaklah cukup  untuk dipaparkan dalam kolom yang serba terbatas ini. Yang bisa dilakukan adalah menjadikan semua episode genocida di Srebrenica ini sebagai alat refleksi kemanusiaan dan kebangsaan kita sebagai sesama anak manusia yang hidup dalam satu nusa dan satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. 

Pespektif Kemanusiaan

Sebagai alat refleksi, saya ingin memulai apa yang pernah disampaikan pejuang kemanusiaan MAHATMA GANDHI.

“Apa yang tidak bisa kita berikan, kita tidak boleh mengambilnya. Nyawa manusia  yang karenanya manusia bisa hidup, adalah pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang manusia satu tidak bisa memberinya kepada yang lainnya. Karena itu, dengan alasan apapun, manusia dilarang keras untuk mengambilnya.”

Ajaran Gandhi ini sesungguhnya menegaskan bahwa penguasa di belahan dunia manapun di dunia ini,  tidak akan pernah mampu mencipta  dan memberi  satu nyawa untuk satu kehidupan anak manusia. Karena itu, atas nama apapun, beda etnis, beda pilihan keyakinan dan agama, terlebih lagi atas nama beda kepentingan politik, seorang penguasa di dunia ini  tidak punya hak untuk mengambilnya. Yang paling berhak mengambil nyawa seseorang hanyalah yang bisa memberinya yaitu Tuhan Yang Kuasa.

Dalam banyak kasus genocida di dunia, termasuk di Srebrenica Bosnia and Herzegovina ini, salah satunya lebih disebabkan absenya nilai kemanusiaan dari akal budi dan nurani penguasa. Karenanya, atas nama politik-kekuasaan, seorang penguasa bisa melakukan sesuatu yang bukan haknya, termasuk mengambil nyawa rakyatnya.

Perspektif Kebangsaan

Srebrenica 1995, seharusnya makin mendalamkan kita dalam memaknai secara tepat apa arti kehidupan satu nusa dan satu bangsa itu. Hidup berdamai dan  bersatu dalam satu tarikan nafas kebangsaan dan kenegaraan,  bukan berarti saling menegasikan eksistensi etnisitas satu suku dengan yang lainnya. Tetapi justru dengan penuh kearifan dan kesadaran penuh untuk bisa saling menghargai dan bukan salingencaci. Saling merangkul dan bukan saling memukul.

Mengapa demikian? Karena etnis dan suku itu bukanlah sesuatu yang secara merdeka bisa dipilih oleh suatu warga bangsa. Tetapi eksistensi masing-masing etnis adalah sebagai sesuatu yang sudah given dari Tuhan dan karenanya tidak bisa dipilah dan dipilih mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang hebat dan mana yang lemah.  Seseorang lahir, hidup dan dibesarkan dalam suku Batak misalnya, tentu bukan karena pilihannya. Tetapi lebih karena karunia Illahi.

Dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita yang sesungguhnya kerangka dasarnya telah dibangun dengan kokoh oleh Para Pendiri Bangsa, maka menjadikan asal-asul etnis dan suku sebagai alat propaganda politik untuk meraih kekuasaan, seperti yang sedang terjadi di 10 tahun terakhir ini, sama halnya dengan penuh sadar kita secara bersama-sana meruntuhkan bangunan kebangsaan yang telah lama  kokoh berdiri  itu yaitu: BHINEKA TUNGGAL IKA DAN PANCASILA.

Setelah berkunjung ke  Bosnia dan Herzegovina, saya pun berani bertesa dan bahkan beryakinan bahwa terjadinya peristiwa Srebrenica di tahun1995, lebih karena bangsa Bosnia-Herzegovina belum memiliki  nilai dasar kebangsaan yang dikompromikan dan dijadikan dasar untuk memandu kehidupan politik kenegaraan sebagai satu bangsa seperti yang kita miliki yaitu Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.

Karenanya, meski hanya terdiri dari 3 etnis yaitu Serbia, Kroasia dan Bosnia, bangsa Bosnia and Herzegovina masih tertatih-tatih untuk bisa hidup berdampingan sebagai satu negara yang penuh kedamaian. Bayang-bayang kekejaman pada kasus Srebrenica 1995, masih terus menghantui seiring belum pudarnya luka dan  dendam politik.

Sekali lagi, dari Bosnia and Herzegovina selaku anak bangsa saya hanya berharap pada elit politik kita: jangan lagi gunakan isu etnik untuk meraih kekuasaan politik. Sebab jika sentimen enisitas itu terus digunakan dampaknya bisa membelah kita lebih dalam dan hanya akan meruntuhkan daya rekat kebangsaan kita bersama.

17 Juli 2019

Dari Bosnia and Herzegovina

Sean Choir.

(Visited 6 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.