More
    BerandaBERITATradisi Pacu Jalur, Lomba Mendayung Khas Kabupaten Kuansing Riau

    Tradisi Pacu Jalur, Lomba Mendayung Khas Kabupaten Kuansing Riau

    Ramai menjadi perbincangan di media sosial di mana seorang anak menari dengan semangat di ujung perahu dalam perlombaan mendayung kelompok yang disebut sebagai tradisi pacu jalur khas daerah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Perlombaan ini biasanya dilakukan oleh 50-60 orang tergantung panjang perahu.

    Perahu yang dipakai yaitu kayu gelondongan utuh tanpa sambungan yang diberi nama “jalur” oleh masyarakat setempat. Hal itu menjadi asal mula perlombaan mendayung ini disebut sebagai pacu jalur. Acara ini digelar setiap tahun dan dihadiri jutaan pengunjung selama beberapa hari penyelenggaraan.

    Sejarah tradisi jalur ini bermula pada abad ke-17, di mana jalur atau perahu dari kayu ini merupakan sarana transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan yang bertempat di sepanjang Sungai Kuantan, terletak di bagian hulu Kecamatan Hulu Kuantan sampai ke hilir Kecamatan Cerenti.

    Jalur atau perahu yang diambil untuk perlombaan dibuat dari satu pohon tanpa sambungan yang bentuknya panjang. Masyarakat harus melakukan ritual dahulu sebelum mengambil kayu dengan tujuan menghormati dan meminta izin kepada alam atau hutan belantara. Satu jalur dapat menampung 40-60 orang dan menjadi alat yang digunakan untuk mengangkut pisang dan tebu.

    Jalur diberi dekorasi agar semakin indah dengan tambahan ukiran kepala ular, harimau, atau buaya di bagian lambung selembayung, dilengkapi dengan selendang, payung, tiang tengah, dan lambai-lambai atau tempat juru mudi berdiri. Tidak hanya sebagai alat angkut, jalur juga merupakan identitas sosial bagi pengemudinya karena pada zaman itu, hanya penguasa wilayah dan bangsawan saja yang dapat mengendarai jalur dengan hiasan indah.

    Awal mula pacu jalur digelar untuk adu kecepatan jalur di kampung-kampung sepanjang Sungai Kuantan yang biasanya dilaksanakan untuk memperingati hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Tahun Baru Islam. Di tahun 1890, pacu jalur digelar untuk memeriahkan perayaan adat, dan hari lahir Ratu Belanda Wilhelmina setiap 31 Agustus. Sekarang tradisi pacu jalur semakin berkembang dan digelar untuk merayakan kemerdekaan Indonesia pada bulan Agustus.

    Satu jalur dapat menampung 50-60 orang yang terdiri dari tukang concang (komandan), tukang pinggang (juru mudi), tukang onjai (pemberi irama dengan menggoyangkan badan), dan tukang tari atau anak coki yang menari di ujung jalur paling depan. Anak coki menari jika jalur milik kelompok mereka unggul, di mana anak coki selalu menarik perhatian karena tarian semangatnya.

    [Radika]

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    - Advertisment -

    Most Popular