Prabowo Klaim Kemenangan 54%, Real Count KPU Menunjukkan 43,75%

Prabowo Subianto mengklaim kemenangan 54% sementara penghitungan real count KPU menunjukkan pasangan calon presiden nomor urut 02 meraih 43,75%.

Angka klaim kemenangan ini dipertanyakan kesahihannya oleh Sekjen Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Yunarto Wijaya karena setelah hampir satu bulan baru menghitung sekitar 50% suara dan telah mengklaim kemenangan lebih 54%.

Sejauh ini, penghitungan real count KPU telah mencapai lebih dari 81% sampai Selasa (14/05) dan capres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin meraih 56,25% sementara Prabowo-Sandiaga 43,75%.

Dalam acara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga di Jakarta Selasa (14/05), Prabowo meminta KPU menghentikan penghitungan suara dan “menolak hasil penghitungan yang curang”.

Ketua KPU Arief Budiman sendiri menyatakan tidak habis pikir dengan berbagai tuduhan kecurangan yang dialamatkan kepada KPU karena menurutnya organisasi ini telah bersikap transparan dalam seluruh tahapan pemilu.

“Tunjukan sama saya mau tahu apa? Server saya kasih tau, ingin tau operator, saya kasih tau, ingin tahu Situng (Sistem Informasi Penghitungan Suara), saya kasih tau. Apa yang belum saya beritahukan?” tegas Arief.

Dalam klaim kemenangan ini, Prabowo juga menegaskan dirinya dan Sandiaga Uno merupakan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, telah “memenangkan mandat dari rakyat”.

“Setelah memperhatikan dengan seksama dan meyakinkan, bahwa kita telah memenangkan mandat ini. Kita telah memenangkan mandat dari rakyat,” seru Prabowo dalam acara yang digelar untuk mengungkap apa yang mereka klaim sebagai fakta-fakta kecurangan Pilpres 2019.

Akan tetapi, Prabowo melanjutkan, dirinya menolak penghitungan Komisi Pemilihan Umum sekaligus meminta KPU menghentikan penghitungan suara yang diklaim curang secara masif dan sistematis.

“Sikap saya adalah menolak hasil penghitungan pemilu, hasil penghitungan yang curang. Kami tidak bisa menerima ketidakdilan dan ketidakbenaran dan ketidakjujuran,” cetusnya sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Ayomi Amindoni, Selasa (14/5) sore WIB.

KPU akan mengumumkan pemenang pemilihan presiden pada 22 Mei dengan menggunakan hasil perhitungan manual berjenjang.

Saat mendeklarasikan kemenangannya pada 18 April lalu, Prabowo mengklaim telah meraih 62% suara. Tidak dijelaskan mengapa ada penurunan dari klaim sebelumnya.

Koordinator pengumpulan data kemenangan Prabowo-Sandiaga, Profesor Laode Kamaluddin memaparkan perolehan suara berbasis C1 dari sistem informasi direktorat BPN per 14 Mei, dengan capres nomor urut 02 memperoleh 54,24 % suara, sementara Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh suara 44,14% suara. Data ini diperoleh dari total 444.976 TPS.

“Posisi ini diambil dari total TPS sebanyak 54,91%, sudah melebihi keperluan bagi ahli-ahli statistik, angka ini sudah valid, sudah bisa dipertanggungjawabkan secara akademis,” ujarnya yakin.

Data tidak masuk logika

Metode perolehan suara berbasis C1 yang dilakukan timnya, kata Laode, dengan mengumpulkan data C1 dari para relawan Prabowo-Sandi di seluruh Indonesia.

“Pada minggu pertama setelah 17 April, tidak banyak yang menyadari pentingnya C1. Pada saat itu semua langsung kirimkan C1 dari sekbes, satgas, kemudian dari relawan Prabowo-Sandi, dari partai koalisi dan saksi-saksi yang ada, itu berdatangan dan sampai hari ini data raw data kita sudah mencapai 1.411.332,” jelas Laode.

Data ini, Laode melanjutkan, kemudian oleh sistem melakukan verifikasi dan validasi oleh sistem itu sendiri.

“Jadi kalau dia double, dia out, hanya satu yang diambil. Dan kita menemukan pada siang ini 444. 976 dari 1,41 juta ini,” ujarnya.[]

(Visited 9 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.