More

    Mahfud MD Dihadapan Komisi III : Kasus Ferdy Sambo Jangan Jadi Dark Number

    JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan akan terus mengawal kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J, hingga ke pengadilan.

    “Tugas saya juga, mungkin Kompolnas [Komisi Kepolisian Nasional] bisa selesai tugas, cuma saya juga mengawas di kejaksaan setelah ini. Kalau main-main di situ, saya teriak lagi, kalau masih ada yang belok-belokan di situ, sampai nanti masuk di pengadilan,” kata Mahfud dalam rapat dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Senin (22/8).

    Sebab menurut Mahfud, jika publik tidak berteriak maka kasus ini bisa menjadi ‘dark number’ atau tak dapat dibuka dalam hukum.

    “Kalau perkara ini tidak diteriakin akan menjadi 2 saja kemungkinannya, satu menjadi dark number, perkara yang tidak bisa dibuka itu ada di dalam hukum. Kedua, ini soal pelecehan dan yang melecehkan sudah mati sedangkan Bharada E (membunuh Brigadir Josua) untuk membela diri lalu tutup perkara,” jelas Mahfud.

    Mahfud lalu mengaku, telah menyadari gugurnya skenario pertama sejak tanggal 13 Agustus 2022. Dia meyakini memiliki pemikiran berbeda sehingga membelokkan skenario itu pada 24 Agustus 2022 ke muka publik.

    “Sejak kapan saya punya pemikiran yang berbeda? sejak 13 Agustus 2022 saya bicara dari Madinah, sesudah itu muncul, Kompolnas masuk ke skenario itu (skenario Ferdy Sambo) tapi tanggal 24 Agustus 2022 saya minta balik, belok skenarionya bukan itu, salah itu basis skenarionya,” jelas dia.

    Menko Polhukam itu lalu melakukan diskusi dengan Polri tentang skenario terbaliknya. Namun menurut dia, gugurnya skenario pertama sedikit terlambat karena baru dilakukan penghentian pada sepekan setelahnya.

    “Skenario pertama baru di SP3 beberapa hari lalu setelah Sambo mengaku. Selama seminggu kemudian baru SP3. Harusnya setelah Sambo ngaku gugur dicabut langsung,” kritik Mahfud.

    Meski begitu, Mahfud bersyukur jika saat ini publik sudah satu paham bahwa yang terjadi dalam sengkarut ini bukanlah kasus pelecehan seksual terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi melainkan pembunuhan berencana.

    “Kita bersyukur hari ini di DPR kita clear,” Mahfud menutup.

    Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar, Supriansa menyampaikan apresiasi kepada Mahfud yang telah tampil ikut mengawal kasus ini.

    “Kalau bapak tidak mengeluarkan sebuah keberanian untuk mengungkap barang ini, saya yakin dan percaya peristiwa ini berakhir di tembak menembak, dan menangis terus keluarga Yosua,” kata Supriansa.

    Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 56 KUHP terkait pembunuhan berencana.

    Di luar itu, sejumlah pihak juga diduga terlibat dalam obstruction of justice atau upaya menghalangi-halangi penegakan hukum dalam pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir J.

    Polri juga telah menyerahkan berkas perkara dari empat tersangka kasus pembunuhan Brigadir J kepada Jaksa Penuntut Umum.

    Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) yang menjadi Ketua Tim Khusus Polri, Komjen Agung Budi Maryoto menyatakan pihaknya telah melakukan gelar perkara terhadap keempat tersangka, yakni Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Maruf. []

    Artikel Terkait

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    10,527FansSuka
    16,400PengikutMengikuti
    37,500PelangganBerlangganan
    - Advertisement -

    Artikel Terbaru