Waspada Hipotermia, ‘Kedinginan’ yang Renggut Nyawa Korban Banjir

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia bencana banjir di Jabodetabek mencapai 16 orang. Korban meninggal dunia terbanyak berada di Jakarta yaitu delapan orang. Tiga orang korban di antaranya meninggal karena mengalami hipotermia. 

Hipotermia biasanya terjadi ketika panas yang dihasilkan tubuh tidak sebanyak panas yang hilang. Dan penyebab kondisi itu umumnya karena terlalu lama berada di tempat bersuhu rendah, mengenakan pakaian yang kurang tebal saat cuaca dingin, terlalu lama mengenakan pakaian basah, dan terlalu lama di dalam air. Beberapa penyebab tersebut sangat mungkin dialami kala banjir.

Sebenarnya tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk melindungi tubuh dari kedinginan. Namun jika Anda terlalu lama terpapar pada suhu dingin yang ekstrem maka kemungkinan terburuk harus dihadapi.

Hipotermia merupakan kondisi kala suhu tubuh menurun drastis hingga di bawah 35 derajat celsius. Suhu tubuh manusia saat normal umumnya berada di angka 37 derajat celsius, dan bila berada di bawah itu fungsi sistem saraf serta organ tubuh lainnya akan mengalami gangguan sistem pernapasan hingga kematian.

Ketika mengalami kedinginan ekstrem ini maka pembuluh darah kapiler akan menyempit agar organ dalam tubuh tetap hangat, detak jantung dan pernapasan cepat. 

Kondisi ini sendiri dapat menyerang siapa pun, tapi cukup rentan dialami bayi dan lansia. Selain itu, juga dapat menyerang orang-orang yang menderita kelelahan, pengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, hingga gangguan mental seperti demensia.

Gejala hipotermia biasanya cukup jelas dari tanda-tanda fisik seseorang yang menderita. Beberapa gejala yang mungkin terjadi antara lain: 

1. Kulit pucat dan terasa dingin ketika disentuh
2. Mati rasa
3. Menggigil
4. Respons menurun
5. Gangguan bicara
6. Kaku dan sulit bergerak
7. Penurunan kesadaran
8. Sesak napas hingga napas melambat
9. Jantung berdebar hingga denyut jantung melambat

Pertolongan pertama

Hipotermia merupakan kondisi darurat yang harus segera mendapatkan penanganan. Tindakan awal yang perlu dilakukan ketika bertemu dengan orang yang memiliki gejala hipotermia adalah mencari ada tidaknya denyut nadi dan pernapasan. Jika denyut nadi dan pernapasan sudah berhenti, maka lakukanlah tindakan resusitasi jantung paru (CPR) bila terlatih atau cari bantuan medis.

Bila orang tersebut masih bernapas dan denyut nadinya masih terasa, lakukan tindakan berikut ini untuk membuat suhu tubuhnya kembali normal:

1. Menangani dengan lembut

Saat Anda membantu penderita hipotermia, tangani dia dengan lembut. Batasi gerakan hanya untuk yang diperlukan saja. Jangan memijat atau menggosok orang itu. Gerakan yang berlebihan, kuat dapat memicu henti jantung.

2. Pindahkan ke tempat yang lebih kering dan hangat

Pindahkan penderita ke lokasi yang hangat dan kering jika memungkinkan. Jika Anda tidak dapat memindahkan orang itu dari kedinginan, lindungi dia dari kedinginan dan angin sebanyak mungkin. Jaga dia dalam posisi horizontal jika memungkinkan.

3. Lepaskan pakaian basah

Jika pakaian yang dikenakannya basah, maka ganti dengan pakaian yang kering. Potong pakaian jika perlu untuk menghindari gerakan berlebihan.

4. Tutupi tubuh dengan selimut atau mantel

Gunakan lapisan selimut atau mantel kering untuk menghangatkan orang tersebut. Tutupi kepala penderita dan biarkan wajahnya terbuka.

5. Beri minuman hangat dan manis

Jika dia sadar dan mampu menelan, berikan minuman hangat dan manis, tidak mengandung alkohol, tanpa kafein untuk membantu menghangatkan tubuh.

6. Berikan kompres hangat dan kering

Gunakan kompres hangat pertolongan pertama (kantong plastik berisi cairan yang menghangat saat diperas) atau kompres darurat air hangat dalam botol plastik atau handuk yang dipanaskan dengan pengering. Letakkan kompres hanya ke leher, dinding dada atau selangkangan.

Jangan gunakan kompres hangat pada lengan atau kaki. Panas yang diberikan pada lengan dan kaki memaksa darah dingin kembali ke jantung, paru-paru dan otak, menyebabkan suhu tubuh inti turun. Ini bisa berakibat fatal.

7. Hindari penggunaan panas langsung

Jangan gunakan air panas, bantal pemanas, atau lampu pemanas untuk menghangatkan penderita hipotermia. Panas yang ekstrem dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur.

Temani dan pantau terus kondisi orang tersebut, hingga bantuan medis tiba. []

(Visited 29 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.