Pulo Geulis, tepat berada di tengah – tengah aliran Sungai Ciliwung di kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor berdekatan dengan Kawasan Kebun Raya Bogor dan Jalan Suryakencana atau Pasar Bogor. Dengan jumlah penduduk Tionghoa sekitar 40% dan Sunda 60% menjadi tempat dengan keragamaan budaya dan sikap sosial masyarakat yang penuh toleransi
Dikenal dengan nama Pulo Geulis karena aliran Sungai Ciliwung yang terbelah menjadi dua di antara daratan sebelum menyatu kembali di bawah jembatan sebelum Kebun Raya Bogor. Hingga kini daratan tersebut disebut Pulo Geulis masyarakatnya.

Pulo Geulis menjadi daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi di Bogor. Bukti adanya Vihara Mahabrahma atau dikenal dengan klenteng Pan Kho Bio. Kelenteng ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah bahwa adanya sikap toleransi yang tinggi diantaranya ialah peralatan ibadah umat muslim, Patung Buddha Dewi Kwan Im, dan Khonghucu dengan altar dan dewa-dewa.

Di salah satu ruangan terdapat batu ditutupi kain warna hijau dengan motif bunga berwarna coklat, dipercaya sebagai petilasan Embah Raden Mangun Jaya, salah satu leluhur keturunan Raja Padjadjaran, Selain itu tedapat patung patung macan yang dipercaya sebagai jelmaan Prabu Siliwangi, juga adanya makam Mbah Imam, salah satu penyebar agama islam di daerah Bogor dan Sekitarnya yang sering diziarahi oleh umat muslim.

Sedangkan umat muslim yang berada di Pulo Geulis menggunakan Klenteng disaat acara Maulid Nabi Muhammad dan acara buka Bersama setiap hari di Bulan Ramadhan.





