BerandaBERITAPenyebaran Omicron Meningkat, Virolog: Karakternya Masih Diteliti

Penyebaran Omicron Meningkat, Virolog: Karakternya Masih Diteliti

BALI – Sempat terkendali, kini kasus Covid-19 di Indonesia kembali ganas. Indonesia darurat Covid-19 karena lonjakan kasus positif virus corona setiap hari.
Pemerintah mengambil langkah cepat untuk menangkal penyebaran varian terbaru virus Covid-19 asal Afrika Selatan berjenis SARS-CoV-2 B.1.1.529 alias Omicron.

Ahli virologi Universitas Udayana Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan, varian Omicron memiliki daya tular yang sangat kuat.

“Jika daya tular varian delta adalah 1 berbanding 5, artinya 1 orang terkena delta mampu setidaknya menularkan kepada 5 orang lain. Sedangkan varian Omicron ini lebih dahsyat, 1 orang positif bisa dengan mudah menyebarkan kepada 7 hingga 14 orang,” ucap Prof Gusti dalam podcast Metrobali yang bekerjasama dengan SultanTV, dikutip Sabtu (12/2/2022).

Meski demikian, Gusti mengatakan, untuk daerah Bali bisa dipastikan kondisinya masih lampu hijau. Dengan kata lain, penyebaran Omicron di Bali masih bisa dikendalikan.

“Secara ilmiah saya katakan Bali masih hijau. Evaluasi saya dari berbagai data itu masih lampu hijau. Karena melihat dari 2 indikator utama, yakni tingkat hunian rumah sakit dan kematian bulan Januari – Februari itu 10 kali lipat lebih rendah, dibanding puncaknya pada bulan Juli,” katanya.

“Tetapi saya juga harus tekankan bahwa tabiat Omicron belum kita pahami,” Gusti menambahkan.

Tabiat Omicron yg dimaksud adalah pakah omicron benar-benar menyerang orang yang sudah divaksin apa tidak. Dan perlu dipastikan apakah vaksin ini efektif apa tidak mengatasi Omicron?

“Hingga saat ini kita tidak punya bukti apakah virus ini ganas apa tidak? Mematikan apa tidak? Karena saat varian Omicron muncul, sebagian orang sudah divaksin, sedangkan sebagian lagi sudah pernah terpapar varian covid lainnya. Sehingga hingga saat ini kita masih perlu mengevaluasi apakah virus ini benar-benar ganas dibandingkan virus delta,” paparnya.

Ahli Virologi ini juga menjelaskan bahwa posisi matahari yang saat ini dekat dengan garis khatulistiwa memberi perlindungan ekstra terhadap serangan Omicron.

“Omicron datang saat matahari mendekati garis khatulistiwa, saat ini di atas Indonesia hingga puncaknya sekitar bulan Maret. Kalau omicron datang saat suhu rendah dan matahari jauh dari indonesia ini diperkirakan kasusnya lebih masif,” kata Gusti menjelaskan.

“Virus ini suka dengan suhu rendah dan udara kering, seperti ruangan ber AC. Saya bisa prediksi jumlah kasus Omicron di Indonesia jauh lebih rendah dari negara lain yang tidak di khatulistiwa. Karena kita dikaruniai iklim tropis,” jelasnya.

Meski karakteristik varian Omicron masih diteliti, ia mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dan sadar menekan pencegahan covid dari diri sendiri.

“2 tahun pandemi COVID-19, masyarakat harusnya sudah cerdas. Jangan lagi akal-akalan dengan prokes dan Satgas. Kita mesti sudah belajar apa yang harus dilakukan untuk menekan risiko untuk diri sendiri dan orang lain,” katanya.

Ia juga meminta agar masayarakat mengikuti peraturan dan kebijakan pemerintah. “Jangan anti dengan pemerintah. Yang harus masyarakat tahu adalah pemerintah ini menyusun kebijakan selalu menggunakan data. Jadi ikuti saja, pemerintah ini sedang mencari formula yang tepat menangani covid,” pungkasnya. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular