Pada 9 Juli 2021 lalu, Pemkot Cilegon secara resmi menetapkan bahwa pada taanggal tersebut diperingati sebagai Hari Peristiwa Geger Cilegon. Hal itu tertuang dalam Keputusan Walikota Cilegon Nomor: 433/F.167-Disbudpar/2021, tentang Penetapan Hari Peringatan Peristiwa Geger Cilegon Tahun 1888. Dengan demikian, pada tanggal tersebut, Pemkot akan memperingatinya.

Mendengar sekaligus membaca berita tersebut, cukup membuat hati saya tergelitik dan pikiran saya mengawang ke masa lalu.Mengapa?Karena peristiwa yang begitu besarnya, hanya diperingati oleh masyarakat Cilegon saja.Atau peristiwa yang didesain sedemikian rupa, diklaim oleh Pemkot Cilegon sebagai pertempuran masyarakat Cilegon.Benarkah demikian?Tidak hanya itu, apakah penetapan tersebut sudah melalui kajian yang cukup matang?
Tulisan ini tidak akan memaparkan bagaimana peristiwa pemberontakan 9 Juli 1888 itu berlangsung. Tapi lebih kepada mendeskripsikan bahwa peristiwa itu sudah didesain dan direncanakan jauh-jauh hari.Dan peristiwa itu merupakan akumulasi dari berbagai kejadian yang dialami oleh masyarakat pada saat itu.Jadi, tulisan ini hanya ingin menyampaikan bahwa peristiwa pemberontakan tersebut bukan peperangan masyarakat Cilegon saja.Melainkan peperangan rakyat Banten secara keseluruhan.
Abad ke-19 Abad Perubahan
Dalam konteks global dunia, abad ke-18 dan ke-19, dalam catatatan sejarah diketahui sebagai abad perubahan.Baik itu perubahan sosial, politik, keagamaan, dan ekonomi.Begitu pun dengan dunia Islam khususnya Indonesia atau Nusantara.
Dalam dunia Islam pada abad tersebut terjadi pembaharuan agama di Mesir.Sejumlah tokoh pembaharu hadir seperti Muhammad Ali Pasha Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Hasan Al-Banna.Dalam konteks Mesir, secara kebetulan pembaharuan yang terjadi dalam hal keagamaan.
Dalam konteks ini, menurut pandangan Daniel Crecelius, sejak permulaan abad ke-19, sekularisasi seolah-olah semakin tampak dan jelas. Bahkan sekularisasi Mesir seperti sudah diprediksikan akan terjadi.
Perubahan dan gerakan pembaharuan juga terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Asia Selatan bias diwakili India dan Pakistan. Di India gerakan ini hadir ke permukaan yang ditunjukan oleh Sir Syed Ahmad Khan.Sementara Pakistan ditunjukan oleh Ameer Ali dan Sir Muhammad Iqbal.
Sedangkan di Asia Tenggara ditunjukkan tidak hanya oleh Nusantara, tapi juga oleh Muangthai dan Malaysia.Dalam konteks ini, maka jika dilihat dalam perspektif global, memang pada abad 19 tersebut adalah masa-masa perubahan di hamper seantero dunia.
Gerakan Pemberontakan Banten Tidak Hanya di Cilegon
Bila diamati dan ditelusuri, gerakan perubahan dan pemberontakan di Nusantara terjadi di hamper seluruh wilayah Nusantara.Tidak hanya terjadi di Banten saja.Tapi di sejumlah wilayah di berbagai tempat, teriakan dan geliat perubahan terjadi secara merata.
Seperti Perang Diponegoro yang terjadi pada 1825-1830, Perang Paderi di Sumatera Barat pada tahun 1803-1837, Perang Aceh tahun 1873-1904, Perang Pattimura tahun 1817, dan masih banyak lagi peperangan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda termasuk Pemberontakan Petani Banten 1888.
Sementara, pemberontakan di Banten, bila dilacak, ternyata tidak hanya terjadi di Cilegon.Tapi juga terjadi di sejumlah tempat.Namun entah mengapa peperangan tersebut tidak muncul ke permukaan dengan sangat hebat sebagaimana pemberontakan yang terjadi di Cilegon atau yang disebut oleh sejumlah kalangan sebagai Peristiwa Geger Cilegon 1888.
Pada tahun 1808 – 1809 terjadi pemberontakan ‘bajolaut’ menentang kerja paksa dan pembuatan pelabuhan di Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, yang diberlakukan oleh Gubernur Jendral Daendles.Selain itu, ada juga Pemberontakan Pasir Peteuy yang masih terjadi di wilayah Pandeglang.Pada tahun 1818 dan awal 1819 terjadi Pemberontakan di Banten Selatan.Belum lagi Pemberontakan Cikande 1829-1830.
Peristiwa Sebelum Pecahnya Pemberontakan
Sebelum peristiwa 9 Juli 1888 meletus, pada tahun-tahun sebelumnya telah terjadi kejadian-kejadian yang membuat kehidupan masyarakat memprihatinkan, tertekan, dan lain sebagainya. Diantaranya karena adanya pajak yang diwajibkan oleh pemerintah Hindia Belanda, wabah yang melanda pada peternakan, meletusnya Gunung Krakatau pada 1883, wabah pes, naiknya pajak perdagangan, mahalnya harga beras, dan kehidupan praktik keagamaan yang sudah mulai dicurigai.
Pajak
Pajak yang dikenakan oleh pemerintah Hindi Belanda cukup beragam.Ada pajak perdagangan, pajak pasar, pajak pertanian, dan lain sebagainya.Salah satu pajak yang sempat dikeluhkan adalah pajak perdagangan dan pajak pasar.Terkait pajak pasar, berdasarkan pasal 14 Ordonansi 17 Januari 1878, Residen Banten memerintahkan agar orang-orang yang berjualan di pasar dikenakan pajak pasar. Di Cilegon, pajak ini dilaksanakan dengan sangat ketat. Sedangkan ada pedagang yang keberatan dikarenakan mereka berdagang tidak setiap hari.
Sedangkan setiap orang yang berjualan atau berdagang di pasar sekurang-kurangnya harus membayar satu gulden. Jika ada pedagang yang tidak membayar pajak, maka akan dipenjara atau didenda sebesar 15 gulden. Belum pajak-pajak lainnya yang juga memberatkan masyarakat.
Menurut Sartono Kartodirdjo, yang menyebabkan pemberontakan itu terjadi, selain karena kesulitan ekonomi yang diakibatkan akumulasi ketidakadilan yang dirasakan masyarakat seperti pajak, juga karena ada faktor lain. Yaitu adanya kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh bencana fisik.
Wabah
Pada tahun 1879, terjadi wabah penyakit yang menimpa pada hewan ternak. Karena hal itu, jumlah hewan ternak mengalami penurunan.Dan hal ini berdampak terhadap pemilik hewan ternak dan masyarakat yang bekerja kepada para pemilik hewan ternak.Atas peristiwa wabah tersebut, pemerintah akhirnya mengambil kebijakan yang justru merugikan rakyat.Yaitu membunuh hewan ternak secara massal.Kebijakan itu dilakukan agar wabah penyakit itu tidak terjadi secara luas.
Setelah wabah hewan ternak, selanjutnya ada demam yang menyebabkan sepuluh persen dari jumlah penduduk yang ada meninggal dunia.Karena hal ini, tenaga kerja banyak berkurang, sawah-sawah terlantar tak tergarap, hasil panen tak dipetik.Dampaknya kelaparan pun terjadi selama satu musim.
Gunung Krakatau Meletus
Tahun 1883, bencana lebih hebat lagi terjadi.Yaitu meletusnya Gunung Krakatau pada 23 Agustus.Letusan itu bahkan menjadi yang terhebat dan terbesa sepanjang sejarah vulkanologi di Indonesia. Atas meletusnya Gunung Krakatau tersebut, sekitar 20 ribu orang tewas.
Tidak hanya menyebabkan korban jiwa, letusan gunung tersebut juga mengakibatkan desa-desa yang tadinya makmur jadi hancur, sawah-sawah yang tadinya subur, jadi gersang, dan lain sebagainya.Wilayah terdampak tersebut yaitu Caringin, Cinangka, Anyer, Merak, Pasauran, Sirih, Tajur, Carita, dan Cilegon.
Tokoh Yang Terlibat
Dalam peristiwa pecahnya pemberontakan petani Banten di Cilegon, dalam catatan sejarah, tidak semuanya berasal dari Cilegon.Lebih dari itu, banyak tokoh di luar Cilegon yang terlibat. Sebut saja Syekh Abdul Karim pimpinan pergerakan tersebut yang berasal dari Tanara, Abu Bakar dari Pontang, Sadeli dari Kaloran, Usman dari Tunggak, Asnawi dari Lempuyang, Muhammad Asyik dari Bendung, Marjuki dari Tanara, dan masih banyak lagi. Bahkan, Ki Wasid yang menjadi tokoh panglima pada pemberontakan tersebut, berasal dari Beji, Kecamatan Bojonegara. Bila dilihat berdasarkan daerah, maka yang terlibat pada peristiwa 9 Juli 1888 itu, selain dari Cilegon, ada yang berasal dari Serang—baik kabupaten maupun kota dalam konteks sekarang—, Tangerang, Bogor, Batavia, dan juga Pandeglang.
Tidak hanya itu, bahkan mereka setiap akan melakukan pergerakan, terlebih dahulu konsultasi atau bertanya kepada guru mereka di Mekah, Syekh Nawawi Albantani.
Menebang Pohon Yang Dikramatkan Masyarakat.
Lantaran kondisi ekonomi yang semakin sulit, ditambah kebijakan pemerintah yang semakin memberatkan dan membebani rakyat, maka masyarakat pun kebingungan.Sehingga, dalam kondisi demikian, praktik takhayul pun dilakukan masyarakat dengan menyembah atau meminta pada salah satu pohon yang dianggap keramat oleh masyarakat.
Pada satu waktu tersebutlah di Desa Lebak Kelapa ada pohon yang dikramatkan oleh masyarakat.Yaitu sebatang pohon kepuh. Melalui pohon inilah masyarakat meminta pertolongan kepada jin penunggu pohon tersebut. Karena pohon tersebut dianggap bisa memusnahkan bencana dan memuluskan apa yang diminta. Lantaran hal inilah, Ki Wasid tak bisa diam. Ki Wasid kemudian mengingatkan masyarakat, bahwa perbuatan itu musyrik.Namun peringatan Ki Wasid ini diabaikan begitu saja.Sehingga satu waktu, pohon itu pun ditebang oleh Ki Wasid.Namun rupanya masyarakat tidak terima dan melaporkan kejadian itu kepada pemerintah.Dan akhirnya, Ki Wasid pun dilaporkan dan dibawa ke pengadilan.Melihat hal itu, para santri Ki Wasid tidak terima.
Hal itulah yang menjadi pemantik semangat para ulama dan ustadz serta masyarakat untuk tidak bisa membiarkan kesewenang-wenangan itu terus berlangsung.Satu lagi yang menjadi pemantik amarah adalah dirubuhkannya menara yang ada di langgara yang ada di Jombang Tengah.Dua peristiwa itulah yang diduga menjadi penyebab puncak terjadinya pemberontakan tersebut.
Dari beberapa uraian di atas, maka sangat jelaslah dan amat terang-benderang jika tanggal 9 Juli itu amat kurang tepat jika ditetapkan sebagai peristiwa Geger Cilegon.Karena realitas sejarah menunjukkan, yang berperang bukan hanya warga Cilegon.Tapi Banten secara umum, khususnya Cilegon, Serang, Tangerang, Pandeglang, Bogor, dan Batavia.Wallahu a’lam bishshawwab.

(Jurnalis Sultantv dan Pemerhati Sejarah)





