Pramuka atau Praja Muda Karana adalah satu-satunya gerakan kepanduan yang berkembang di Indonesia yang menjadi kegiatan masyarakat sejak di bangku sekolah dasar.
Gerakan kepanduan sudah ada sejak sebelum proklamasi kemerdekaan. Tokoh pendiri gerakan kepanduan nasional ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang dikenal sebagai Bapak Pramuka.
Berkat kontribusinya di bidang kepanduan, 1988 Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikukuhkan dengan gelar Bapak Pramuka Indonesia. Hal ini terjadi pada momen Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka.
Akar berdirinya pramuka di Indonesia itu pada 1912, saat muncul gerakan kepanduan Belanda. Di tahun 1916 organisasi kepanduan lokal juga dibentuk. Lahirlah beberapa gerakan nasional lain seperti JPO, HM, JJP, NP, NATIPIJ, PPS, dan lainnya yang nantinya bergabung dan mulai bersatu dengan nama INPO.
Pada 1960, MPRS membenahi organisasi kepanduan Indonesia. 9 Maret 1961 Presiden Soekarno melebur seluruh organisasi kepanduan menjadi satu dengan nama Pramuka.
Pada 14 Agustus 1961, digelar majelis pimpinan nasional. Di hari yang sama, Soekarno menyerahkan panji-panji pramuka yang disaksikan oleh ribuan anggota pramuka seluruh Indonesia.
Kemudian atas peristiwa itu, 14 Agustus dijadikan sebagai peringatan Hari Pramuka yang dirayakan setiap tahunnya.
[Radika]




