BerandaBERITAMenilik Sesajen Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

Menilik Sesajen Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Jawa

Di bumi Nusantara ini, hampir semua upacara adat menggunakan sesajen. Upacara pernikahan adat Jawa, misalnya. Dalam tradisi Jawa, sesajen biasanya akan disiapkan sebelum pemasangan tarub dan bekletepe. Sesajen yang disajikan diantaranya berupa nasi tumpeng, berbagai macam buah-buahan, lauk-pauk, penganan (kue jajan pasar), minuman, bunga, jamu, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera. Umumnya perangkat dan isi sesajen hampir serupa pada setiap daerah.

Sajen atau sesaji adalah tradisi yang masih menjadi perdebatan. Bukan karena dianggap kono dan aneh tetapi sesajen memiliki makna dan spirit unik, dinilai sangat sakral. Ritual yang merupakan warisan dari budaya Hindu dan Budha ini juga dilakukan sebagian masyarakat Jawa yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi. Lebih dikenal dengan Kedjawen.

Masyarakat Jawa secara turun temurun diajarkan untuk selalu menghargai, menghormati, serta memperlakukan seluruh makhluk hidup dan benda-benda tidak hidup dengan rasa welas asih. Sesajen sendiri dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan menciptakan keselarasan antara manusia, sang
pencipta dan alam.

Dengan adanya perkembangan zaman, kebudayaan dan tradisi dalam masyarakat telah mengalami perubahan. Dapat dilihat dari segi kegiatan yang dilaksanakannya, hal tersebut tidak terlepas dari penyebaran agama Islam yang diakulturasikan dengan kebudayaan lokal dari masyarakat.

Profesor Djoko Suryo atau KRT Suryohadibroto guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada menuturkan kepada Radio Sonora, sesajen merupakan salah satu tradisi orang Jawa dengan melakukan dan menyuguhkan aneka makanan atau pemberian makanan dan sejenisnya (dalam bahasa Jawa ubo rampe) untuk para leluhur dan orang yang sudah meninggal.

Menurut Prof Djoko sesajen bertujuan memberikan doa dalam bentuk benda makanan, supaya yang telah meninggal mendapatkan pengampunan dan segala amal perbuatannya diterima serta mendapatkan tempat di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Agar para leluhur yang telah meninggal dunia mendapatkan keselamatan atau slamet (bahasa Jawa) sehingga diadakan “Selametan”. Prinsip selametan
yaitu selamat didunia dan akhirat serta mendapatkan pengampunan dam damai di alam keabadian,” kata Prof Djoko, seperti dikutip sonora.id.

enurut Djoko tradisi sesajen juga menjadi bentuk akulturasi/proses percampuran budaya pra Islam dan Islam saat masuk ke tanah Jawa. Segala bentuk
persembahan kepada Tuhan YME agar keluarga yang meninggal mendapatkan tempat terindah dan dijauhkan dari siksa kubur, serta dapat pengayoman
Allah SWT itu cara orang Jawa menterjemahkan agar mendapatkan keselamatan diakhirat.

“Keselarasan antara manusia, alam dan Tuhan sang pencipta alam semesta menjadi pengejawantahan dari tradisi sesajen tersebut, sehingga manusia hidup damai,” tambah Prof Djoko Suryo.

Ia menegaskan bahwa tradisi sesajen merupakan bentuk kearifan lokal dimana nenek moyang kita memaknai ajaran-ajaran Agama Islam secara
berkesinambungan dari ajaran nenek moyang yang baik dalam meberikan arahan, panutan sehingga hubungan antara manusia di dunia dan alam terjalin
baik yang diwujudkan dalam bentuk doa-doa.

“Dalam Islam mengajarkan doa dan yang dilakukan dengan kumpul-kumpul berdoa bersama. Membaca doa dengan melafalkan ayat-ayat alquran secara bersama sehingga mendapatkan barokah. Generasi muda harus bisa meneladani tradisi leluhur adiluhung dan bisa menjalankan agama dengan sesuai ajarannya dengan lahir dan batin,” tutup Sejarawan UGM tersebut.

Masyarakat Jawa merasa bangga/ marem [bhs Jawa) jika menjalankan ibadah sholat atau mengaji secara bersama-sama. Sehingga sesajen hanyalah sebuah imbol saja, tetapi inti sarinya adalah memanjatkan doa lantaran sesajen tersebut.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular