Kerangka Berusia Seribu Tahun Representasikan Korban Tsunami Tanzania

Seribu tahun lalu, penduduk Desa Swahili di tepi Sungai Pangani, Tanzania, diterpa tsunami akibat gempa bumi.

Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri dari sepakan ombak, banyak rumah yang tenggelam dan hancur. Para jasad pun tertimbun reruntuhan.

Gelombang besar yang menenggelamkan desa nelayan kuno di Tanzania tersebut mendorong para peneliti untuk meninjau kembali resiko  tsunami di Pantai Timur Afrika.  

Situs Tanzania menambahkan data penting pada studi tsunami di Samudra Hindia. Meskipun tsunami besar di kawasan itu relatif jarang terjadi–sekitar 300 hingga 1000 tahun sekali–tapi taruhan nyawanya sangat tinggi. Pusat ekonomi Tanzania Dar es Salaam, yang terletak di pantai, adalah salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Proyeksi PBB meramakan bahwa ia akan menjadi “megacity” dengan lebih dari 10 juta penduduk pada tahun 2030.

Dilansir dari laman National Geographic, seorang arkeolog bernama Elinaza Mjema bersama siswanya dari Universitas Dar es Salaam, menemukan tulang manusia di Desa Swahili pada tahun 2010. 

Kemudian ia melakukan penggalian lebih lanjut pada 2012, 2016, dan 2017. Mereka menemukan mayat yang berorientasi secara acak di tanah–termasuk yang memakai gelang besi utuh di sekitar pergelangan kakinya. Perang dan penyakit nampaknya bukan penyebab kematian tulang-tulang tersebut karena tidak ada bekas luka atau tanda-tanda penyakit pada salah satu tulang.

Menurut hasil penelitiannya, tulang pria, wanita, dan anak-anak desa itu tenggelam dan jasadnya terkubur di sisa-sisa rumah mereka yang hancur. 

Tengkorak manusia mengintip dari pasir kelabu di sepanjang Sungai Pangani Tanzania, di tempat yang dulunya merupakan desa nelayan Swahili awal. Sekitar seribu tahun yang lalu, tsunami tiba-tiba menghancurkan desa dan membunuh banyak penduduk.
Tengkorak manusia mengintip dari pasir kelabu di sepanjang Sungai Pangani Tanzania, di tempat yang dulunya merupakan desa nelayan Swahili awal. Sekitar seribu tahun yang lalu, tsunami tiba-tiba menghancurkan desa dan membunuh banyak penduduk.

Pasir yang mengubur desa itu berisi sisa-sisa ikan, hewan pengerat, burung, amfibi, dan bahkan cangkang moluska laut kecil—tanda bahwa air telah masuk dari Samudra Hindia.

Dan di mana pun para peneliti menggali, mereka terus menemukan lebih banyak tulang manusia. “Kadang-kadang, itu agak emosional—kami perlu berpikir tentang sains, tetapi sementara itu, kami bekerja dengan orang-orang yang meninggal di sana,” kata Maselli di National Geographic (12/5/2020).

Penanggalan radiokarbon arang dan tulang di endapan mengkonfirmasi bahwa peristiwa banjir terjadi sekitar seribu tahun yang lalu.

Deposito tsunami dari sekitar Samudra Hindia juga berasal dari masa itu, menunjukkan bahwa peristiwa yang serupa dalam skala dan intensitasnya dengan tsunami Sumatra 2004 terjadi satu milenium yang lalu di Afrika.[]

(Visited 4 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.