Festival gulat unta tradisional di Turki barat yang menarik ribuan orang setiap tahun menuai kritik dari aktivis hak-hak binatang. Para aktivis mengatakan kelompok hewan pemamah biak besar itu dilecehkan dan dilukai selama acara tersebut.
Festival Gulat Unta Internasional ke-40 diadakan di Selcuk, bagian dari Provinsi Aegean Izmir, pada Minggu 16 Januari 2022. Festival tersebut diikuti oleh 152 unta dengan menggunakan pelana dan kain hias dan bordir berbagai pola dan warna di punuk dan leher mereka.
Dahulu kala, gulat unta menjadi ajang bagi para pengembara yang hendak menegaskan persaingan di antara keduanya. Festival ini melibatkan dua unta jantan yang saling bertarung di dalam ring.
Bersama sang pemilik, unta-unta akan saling bertarung satu sama lain. Walau demikian, gulat unta tak seseram yang dibayangkan.
Sebab, unta bukanlah hewan yang hidup dengan insting perkelahian. Hewan ini memang dapat bersikap temperamental, akan tetapi tidak dapat disebut agresif. Sangat sulit untuk menggoda seekor unta agar mau bertarung dengan unta lainnya. Oleh sebab itu, gulat unta lebih mirip dengan pertunjukan komedi ketimbang acara baku hantam.
Terkadang, dalam gulat unta, salah satunya melarikan diri dari arena, sehingga yang tetap diam di tempat terpaksa dinyatakan sebagai pemenang. Seandainya terjadi perkelahian, unta hanya akan mencoba mendominasi dengan duduk di atas tubuh lawannya.
Meski demikian, setiap tahunnya banyak penonton lokal dan luar negeri menghadiri festival tersebut. Para pengunjung wisatawan biasanya hanya ingin melihat binatang bersaing, yang didekorasi khusus untuk acara tersebut.
Liga gulat unta Turki ini biasanya digelar dari bulan November sampai Maret.
Walaupun saat ini gulat unta masih sering dilaksanakan oleh penduduk lokal di wilayah Aegean, popularitasnya kian menurun karena alasan biaya penyelenggaraan acara yang tak murah.
Selain itu, olahraga ini telah banyak dikritik oleh organisasi-organisasi hak hewan. Apalagi seiring waktu, pemerintah mulai melarang festival ini di beberapa tempat. Meski demikian, Pemerintah Kota Selcuk mengajukan permohonan kepada UNESCO agar praktik festival gulat unta tersebut ditetapkan sebagai warisan dunia, dengan catatan sebagai jejak sejarah dan budaya di area tersebut.[]





