Badai Dorian, ‘Lemah’ namun Mematikan

Setelah meluluhlantakkan Bahama hingga menewaskan tujuh orang, Badai Dorian kini masih mengamuk dan diprediksi akan melewati wilayah bagian tenggara Amerika Serikat, Rabu (4/9).

Meski kecepatan angin diperkirakan terus melemah, badai yang dianggap relatif kecil itu tetap destruktif.

Apa yang membuat Badai Dorian sangat merusak dengan kecepatan angin yang tak begitu besar?

Badai Tak Bergerak

Badai Dorian bukan merupakan badai terbesar. Meski sempat kecepatan angin mencapai hampir 300 kilometer, rata-rata kecepatan Badai Dorian mencapai 233 kilometer per jam.

Badai Allen pada 1980 lalu masih memegang rekor tertinggi dengan kecepatan angin mencapai 305 kilometer per jam.

Meski begitu, Badai Dorian merupakan topan terbesar yang pernah menerjang Bahama berdasarkan tekanan angin.

Pusat Topan Nasional AS (NHC) menuturkan kecepatan Badai Dorian juga terus melemah dari semula kategori 5 menjadi kategori 2. Namun NHC memperingatkan warga AS terutama di wilayah yang dilewati Badai Dorian untuk tidak menyepelekan dampak kerusakan topan tersebut.

Kecepatan angin disebut bukan satu-satunya faktor yang membuat badai bersifat destruktif. Faktor lain seperti curah hujan dan panjang waktu angin berdiam di satu tempat turut memperbesar peluang badai itu semakin destruktif.

Berdasarkan data dari NASA, Badai Dorian berpusar hingga 18 jam lebih di Bahama dengan membawa curah hujan 60 sentimeter per jam. Laju Badai Dorian juga terbilang lambat, hanya 1,6 kilometer per jam.

Pusaran angin pelan dan laju yang lambat membuat faktor destruktif Badai Dorian semakin besar. Hal itu juga mempersulit pengamat cuaca memperkirakan jalur badai.

Ketika melintasi Bahama, Badai Dorian juga menyebabkan gelombang pasang hingga mencapai ketinggian 3-4,5 meter di atas permukaan laut.

Perubahan Iklim

Dilansir AFP, ilmuwan iklim dari Union of Concerned Scientists, Kristy Dahl, mengatakan laju badai yang berada lama di satu tempat semakin sering terjadi. Hal ini, kata dia, dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Ilmuwan lain juga menduga hal itu karena daerah Kutub Utara memanas lebih cepat dari wilayah yang ada di garis khatulistiwa, sirkulasi atmosfer global juga menurun.

Hal itu membuat ahli berkesimpulan jumlah badai yang ada tidak akan bertambah, namun kekuatan angin tersebut akan semakin kuat hingga mencapai badai kategori 4 dan 5. 

Dahl menyebut ada tiga faktor yang membuat itu terjadi. Pertama, peningkatan suhu panas dari pemanasan global diserap oleh lautan, artinya ketika badai melewati air yang lebih hangat akan membawa lebih banyak energi potensial yang akan menjadi curah hujan dan angin lebih kuat.

“Pemanasan global bahkan lebih parah terjadi di Samudera Atlantik yang telah menghangat sekitar 0,3 derajat celcius per dekade sejak 1970,” kata Dahl.

Kedua, Dahl menuturkan kenaikan permukaan laut membuat badai melonjak lebih tinggi dan luas. Ketiga, udara lebih hangat cenderung menyimpan uap air yang memicu curah hujan lebih tinggi. []

(Visited 6 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.