APKI Berharap Anggaran Lebih Besar untuk Kesehatan Jiwa

Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI) berharap, anggaran pemerintah untuk kesehatan jiwa baik dari segi sarana dan prasarana seperti keberadaan rumah sakit jiwa dan tenaga kesehatan jiwa, lebih diperbesar lagi. Jika sebelumnya di bawah satu persen, pada anggaran berikutnya bisa lebih dari itu.

Dra Ernike Sri Tyas Suci PhD, Ketua APKI menjelaskan, pada peringatan World Mental Health Day tahun ini yang mengangkat tema ‘Greater Accesss Greater Investment’, ia mewakili APKI berharap, investasi dan anggaran untuk kesehatan jiwa masyarakat jauh lebih besar. Untuk Banten, wanita yang kerap disapa Tyas ini berharap, keberadaan rumah sakit jiwa bisa terealisasi. Ini untuk memudahkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan jiwa.

“Harapan saya, baik pemerintah pusat maupun daerah bisa memberikan investasi lebih besar lagi di tahun depan pada kesehatan jiwa, ini untuk memberikan akses pada semua. Selama ini anggaran untuk layanan kesehatan sangat minim, itu pun biasang dipakai untuk layanan kesehatan yang bukan gangguan jiwa,” jelas wanita yang berprofesi sebagai dosen ini.

Pada masa sekarang ini di era pandemi, kata Tyas, banyak orang rawan terganggu kejiwaan. Baik di kalangan anak maupun orangtua.

“APKI membuka konseling gratis, dan kami mendapatkan beragam kasus pada situasi pandemi ini. Misalnya mahasiswa yang harus pulang ke rumah, banyak konflik yang terjadi. Stay at home, bersama-sama di rumah selama 24 jam, tidak selalu menjadi baik,” jelas Tyas.

Tanda-tanda kejiwaan yang terganggu pada seseorang yang perlu dicermati menurut Tyas, bisa terlihaat dari ekspresi atau perilaku yang tidak wajar. Seperti halnya selera makan di luar kewajaran seperti porsi makan berkurang atau malah bertambah. Ciri lainnya, diam dan menarik diri dari pergaulan, merasa bersalah dan tidak berguna, serta perubahan perilaku dan perasaan. Hal-hal semacam ini perlu deteksi dini supaya tidak terjadi hal-hal serius.   

“Melihat definisi kesehatan jiwa ada empat komponen yang harus diperhatikan yakni fisik, jiwa, mental, dan spiritual. Gangguan mental ini tidak terlihat tapi terekspresikan. WHO menyebut, dari empat orang, ada satu orang yang punya masalah kejiwaan,” tutur Tyas. [sultantv]

(Visited 6 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.