Tradisi Unik Suku Apatani; Menyumbat Lubang Hidung untuk Menutupi Kecantikan

Apabila membahas sebuah tradisi kecantikan dari berbagai belahan dunia, tentu tak akan ada habisnya. Luasnya dunia ini menghadirkan beragam keunikan di dalamnya, terutama dalam aspek kecantikan itu sendiri. Beda budaya, beda pula ritual dan standar kecantikannya.

Dilansir kumparan.com, salah satu keunikan dari tradisi kecantikan dunia ini dimiliki oleh Suku Apatani yang terletak di Dataran Tinggi Apatani, Arunachal Pradesh, India. Para perempuan dari suku Apatani di India ini terkenal dengan dekorasi hidung mereka yang tidak biasa.

Ya, mereka menyumbat kedua lubang hidung dengan Tippei–sebuah gumpalan tinta hitam yang dicampur dengan lemak babi dan butiran halus arang. Namun, bukan seperti kebanyakan tradisi kecantikan dari suku-suku dunia lainnya yang bertujuan agar tampak lebih cantik, suku Apatani ini justru menyumbat hidung dengan Tippei agar tampilan mereka tampak tidak menarik. Mengapa?

Tradisi perempuan suku Apatani dari India dengan menyumbat hidung. Foto: Shutterstock

Sejarah di balik penggunaan Tippei oleh perempuan Apatani ini terbilang menyedihkan. Dikutip Barcroft TV, konon, perempuan-perempuan Apatani memiliki kecantikan yang luar biasa, bahkan paling cantik dari seluruh suku yang ada di India. Namun sayang, kecantikan mereka sering membawa malapetaka. Mereka sering diculik oleh suku-suku tetangga untuk dijadikan istri.

Untuk menghentikan ketakutan tersebut, para leluhur suku Apatani pun memulai tradisi untuk menato wajah dan menyumbat lubang hidung para perempuan dari usia belia. Hal ini dilakukan agar mereka tampak tidak menarik.

Selain menyumbat hidung, wajah perempuan Apatani juga dihiasi dengan tato berwarna hitam, yang menjulur dari ujung dahi hingga dagu mereka. Namun, pada 1970, praktik menyumbat hidung dan melukis tato suku Apatani di wajah sudah tak lagi diperbolehkan oleh pemerintah India.

Kini, tradisi memakai Tippei masih bisa ditemukan pada perempuan-perempuan tua Apatani yang memang menjadikan hal tersebut sebagai identitas mereka. Generasi muda tak meneruskan tradisi ini karena menjadi pemandangan yang aneh bagi mereka untuk ke kota mencari pekerjaan dalam tampilan wajah yang tak biasa.[]

(Visited 3 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.