Sudah Banyak Solusi, Mahasiswa Jangan Banyak Mengeluh

Pembelajaran secara daring kerap menimbulkan polemik. Ketersediaan kuota dan kondisi sinyal menjadi dua alasan yang mencuat. Namun cara belajar daring tetap ditempuh karena dianggap jauh lebih aman untuk memutus penyebarluasan Covid-19.

Pembelajaran secara daring ini dijelaskan Rahmawati S.Sos M.Si, Ketua Gugus Penjamin Mutu FISIP Untirta, dimudahkan oleh sistem yang sudah disiapkan dan bantuan kuota dari pemerintah.

“Memang waktu itu Kemendikbud belum merespons persoalan kuota, kuota mahasiswa. Sekarang sepertinya memang karena pandemi ini kapan berakhir kita tidak tahu, kita kerjasama dengan provider tertentu mahasiswa daftar, dapat kuota gratis. Termasuk dari Kemendikbud juga. Ada subsidi pulsa untuk dosen dan mahasiswa. Jadi persoalan bahwa keterbatasan kuota internet harusnya tidak muncul ke permukaan. Kalau soal akses jaringan, itu kondisi lain yang harus kita komunikasikan,” jelas dosen kebijakan publik, keuangan negara, manajemen perkantoran, admininstrasi keuangan negara, manajemen aset, sampai teori organisasi ini.

Membawakan materi yang berkaitan pengaruh TIK dalam kehidupan perguruan tinggi dan  revolusi industri 4.0 yang berdampak pada lini sosial, ekonomi, serta politik, lulusan S1 Undip Jurusan Admininstrasi Negara dan S2 Admininstrasi Publik ini bilang, pembelajaran online bagi mahasiswa tidak melulu melalui aplikasi seperti Zoom aatau Google Meet. Rahmawati menyebut, Untirta memiliki berbagai sistem teknologi yang mengatur pembelajaran bagi mahasiswa baru hingga yang menyusun skripsi.

Ia menyebut, Untirta memiliki SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Universitas Sultan Ageng Tirtayasa). Mahasiswa dan dosen bisa berinteraksi di sana, antara lain dengan cara dosen mengunggah materi dan mahasiswa mengumpulkan tugas. Pembelajaran online dibedakan dengan synchronize dan asynchronize (pembelajaran online tidak secara tatap muka langsung). Pembelajaran seperti ini, tidak menguras banyak kuota yang menimbulkan banyak keluhan di kalangan mahasiswa.

Aplikasi SPADA ini kata dia, aktif digunakan sejak 2019. Namun penekanannya baru pada beberapa mata kuliah seperti agama, bahasa Indonesia, kewarganegaraan, dan bahasa Inggris. Saat ini di masa pandemi digunakan di berbagai mata kuliah.

Selain itu, ada Siakad dan Sista. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi pun tahapannya dibantu sistem secara komputerisasi, yakni Sista atau sistem informasi tugas akhir. Mulai dari mengontrak skripsi, seminar proposal, sampai sidang. Jika tidak melakukan enam tahap Sista, tidak akan terekam dan tidak bisa mengikuti wisuda.

Penerapan TIK pada pembelajaran di dunia kampus saat ini bukan lagi menjadi alasan bagi mahasiswa maupun dosen untuk antipati pada teknologi. Yang dilakukan yakni penyesuaian.   

“Terkadang sebagai dosen, miris melihat betapa sebenarnya mahasiswa sudah menggunakan smartphone jauh lebih dulu. Tetapi lebih banyak untuk media komunikasi. Belum sampai pada tahap menggali pembelajaran. Sekarang saya, meskipun belum ada penelitian, saya memiliki keyakinan sebagian besar smartphone yang digunakan mahasiswa sudah menginstal aplikasi Zoom atau Meet. Karena itu dua aplikasi yang digunakan untuk perkuliahan tatap muka secara online. Bisa dicek ke smartphone setiap mahasiswa termasuk dosennyaa. Saya sendiri sudah menginstal,” tuturnya.[sultantv]

(Visited 21 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.