31.2 C
Serang
Wednesday, March 3, 2021

Peringati Hari Lahan Basah Sedunia, Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Dalam rangka perayaan Hari Lahan Basah Sedunia yang jatuh 2 Februari 2019 (World Wetlands Day / WWD), Wetlands International Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan serangkaian kegiatan pada 28 Februari 2019. Mengusung tema “Wisata Eduksi Mangrove dalam Rangka Mengkapanyekan Perlindungan dan Pemulihan Ekosistem Mangrove untuk Metigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim” di Desa Sawah Luhur, Serang, Banten, Kamis (28/2).
Dalam acara ini melibatkan sekitar 300 orang dari berbagai unsur, yaitu pemerintah pusat, pemerintah kota, pemerintah daerah, siswa sekolah, jurmalis media, serta masyarakat sekitar. Perayaan ini secara resmi dimulai sejak tahun 1997, menandai diadopsinya suatu perjanjian internasional untuk perlindungan lahan basah yang diadakan pada tanggal 2 Februari 1971 di Kota Ramsar, Iran.
Perjanjian internasional tersebut kemudian dikenali sebagai Konvensi Ramsar. Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi Ramsar sejak tahun 1991 melalui Keputusan Presiden RI No. 48 tahun 1991. Perayaan hari lahan basah sedunia pada dasarnya adalah upaya untuk secara terus menerus menumbuhkan kesadartahuan mengenai peran penting lahan basah bagi manusia dan planet bumi.
Direktur Wetlands Internasional Indonesia Nyoman Suryadi Putra mengajak masyarakat dan pemerintah untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang akan membantu pelestarian lahan basah terjaga dan adanya komitmen rehabilitasi kedepannya.
“Tantangan dari alam sendiri relatif kecil, justru tantangan keberhasilan ini oleh manusia setempat dan juga pemerintah yang membuat kebijakan. Pemerintah harus membantu melestarikan lahan basah ini, dan harus ada komitmen dalam merehabilitasi ke depannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kabalitbang Inovasi (KLHK) Dr. Yulianto menambahkan, terkait penyelamatan lahan basah Teluk Banten yang mempunyai luas 3500 hektar perlunya kesadaran masyarakat terhadap hutan mangrove yang sudah terbukti banyak manfaatnya.
“Teluk Banten ini termasuk cagar alam. Menurut aturan yang ada, ekosistem cagar alam atau hutan magrove ini sangat dilindungi baik yang didalam kawasan negara maupun di kawasan luar negara. Untuk menjaganya harus melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk sama-sama menjaganya,” jelasnya.
Dijelaskan, Indonesia adalah negara yang memiliki lahan basah terluas di Asia setelah Cina yaitu sekitar 40,5 juta hektar atau sekitar 20%, dan memiliki luas mangrove terbesar di dunia yakni mencapai 22,6% dari total luasan mangrove globa. Ekosistem mangrove Indonesia memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia di mana penyebaran terbesar berada di wilayah Sumatera, Kalimantan Papua, dan Jawa. Termasuk Banten mempunyai luas 3500 hektar pohon magrove.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang (DLHK) Agus Heri mengatakan, Pemkot Serang mendukung sepenuhnya kebijakan perlindungan lahan basah. Maka dari itu, kata Agus Heri, diperlukannya kesadaran manusia, untuk melestarikan lahan basah. “Untuk pemerintah Kota Serang sangat mendukung kegiatan penanaman hutan mangrove. Oleh karena itu tinggal kesungguhan masyarakat, terutama pemerintah provinsi harus siap membantu dalam anggrannya,” tegasnya.[]

Penulis : Arik frastiawan
 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

12,731FansSuka
6,654PengikutMengikuti
32,100PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Artikel Terbaru