Kota Solo selalu menawarkan nuansa klasik bagi siapapun yang mengunjunginya. Mulai dari arsitektur kotanya hingga adat budayanya yang kental akan memberikan sensasi nostalgia terutama bagi para pelancong.
Pasar Triwindu merupakan salah satu destinasi wisata di Kota Solo yang akan menjadi mesin waktu bagi para wisatawan menuju Jawa tempo dulu.
Pasar ini menjual berbagai barang antik, mulai dari patung kayu dan batu, radio tua, uang kuno, telepon kuno, senjata kuno, mesin tik, hingga pernak-pernik rumah tangga pada masa lalu.
Pasar Triwindu sudah dianggap sebagai surga bagi pecinta barang-barang antik, klasik dan vintage. Sebab, selain menyediakan barang-barang antik yang beragam, menawarkan pula harga yang bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga puluhan jutaan rupiah.
Selain menawarkan pengalaman wisata berbelanja barang antik, Pasar Triwindu biasa dijadikan tempat hunting foto atau video. Lorong-lorong, kios, dan barang koleksi di pasar ini bisa dieksplorasi sebagai objek maupun subjek fotografi. Namun, tidak sedikit pula wisatawan yang berkunjung hanya untuk sekedar cuci mata.
Pasar Triwindu sudah berdiri sejak 1939. Dibangun pertama kali bertepatan dengan 24 tahun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII bertahta. Nama Triwindu yang berarti delapan tahun rangkap tiga, dipilih untuk memperingati hari bersejarah tersebut.
Awalnya, pasar ini hanyalah lahan kecil dengan meja-meja penjaja kue-kue tradisional, pakaian, majalah, ataupun koran. Namun seiring waktu, banyak para penjaja yang membangun kios sendiri di tempat itu.
Pada masa penjajahan Jepang, keadaan ekonomi di Kota Solo sulit. Banyak bangsawan menjual benda-benda antik dan koleksi seni mereka di pasar ini untuk menghidupi diri. Sehingga Pasar Triwindu menjadi salah satu pasar terpenting di Solo pada masa itu. Sampai akhirnya, pasar yang semula sederhana itu berubah menjadi tempat jual-beli barang antik.
Berlokasi di Ngarsopuro, Jl. Diponegoro, Keprabon, Kec. Banjarsari, Pasar Triwindu dipugar mengikuti arsitektur di sekitar Solo. Lahan berjualan yang tadinya hanya satu lantai, dibangun menjadi bertingkat dua oleh pemerintah Solo, pada Juli 2008.
Mengikuti peremajaan tersebut, nama pasar ini sempat berubah menjadi Pasar Windujenar, hingga akhirnya kembali ke nama semula, Pasar Triwindu, pada tahun 2011.



