31.2 C
Serang
Wednesday, March 3, 2021

Miris, Populasi Badak Sumatra Semakin Menurun, Ini Faktor Penyebabnya

Reproduksi badak Sumatera menjadi salah satu faktor menurunnya populasi satwa langka ini. Tercatat, populasi  badak  bercula dua di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, tersisa tidak lebih dari 30 individu.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah kepunahan Badak  Sumatera bernama latin, Dicerorhinus sumatrensis. Keberadaan badak khas Sumatera ini sulit terdeteksi karena umumnya hidup di hutan rawa dataran rendah hingga perbukitan.

Melansir VOA Indonesia, Senin (20/1/2020), satwa langka ini telah masuk dalam kategori sangat terancam (critically endangered) dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di Provinsi Aceh, merupakan benteng terakhir upaya pelestarian badak Sumatera di ujung barat Indonesia.

Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNGL Adhi Nurul Hadi mengatakan saat ini, populasi  badak  Sumatera di taman nasional ini diperkirakan tidak lebih dari 30 ekor, yang terkonsentrasi pada wilayah barat dan timur TNGL. 

“Itu perkiraan 16 hingga 20 individu, kami belum bisa optimal mengidentifikasi. Kami juga belum bisa membedakan individu satu dengan lainnya,” kata Adhi.

Kecuali, lanjut dia,  badak  yang memiliki anak dan dapat dipantau perkembangannya, sehingga dapat dibedakan dengan  badak lain.

“Sebab, mereka tidak memiliki ciri khas, sehingga kalau kami identifikasi terhadap foto dan video sekitar 12 sampai 20 (ekor) di wilayah barat. Lalu, di wilayah timur kurang dari 15 (ekor), sekitar enam hingga delapan  badak,” sambung Adhi.

Masa birahi  badak Sumatera pengaruhi populasi Populasi  badak  Sumatera semakin tergerus akibat sejumlah faktor. Di antaranya sulitnya dalam bereproduksi, hingga terganggunya habitat hingga tingginya sensitivitas terhadap interaksi dengan satwa domestik lainnya.

Singkatnya, kata Adhi, masa birahi satwa ini juga menjadi faktor penyebab menurunnya populasi  badak Sumatera di ujung Barbarat Indonesia tersebut. Selain itu, perburuan satwa, perambahan hutan dan penebangan liar, serta kebakaran hutan masih dapat menjadi ancaman lain bagi satwa langka ini.

Oleh karenanya, satwa ini juga menjadi prioritas bagi TNGL, selain gajah, harimau dan orangutan. “Kami sudah menetapkan side monitoring. Itu menetapkan satu areal yang intensif dan potensial menjadi habitat  badak . Kami memasang camera trap dengan luas side monitoring sekitar 19.000 hektare,” jelas Adhi.

Upaya survei pada setiap individu  badak di lokasi tersebut juga dilakukan. Selain itu, dilakukan juga pemantauan terhadap proses reproduksi. Sebab, menurut Adhi, indikator keberhasilan dari suatu habitat penunjang satwa liar itu, salah satunya melalui reproduksi.

Pemantauan juga dilakukan mencakup ketersediaan pakan dan kondisi fisik lingkungan yang bisa membatasi peluang reproduksi antara jantan dengan betina.

Adhi menjelaskan dalam meningkatkan populasi badak Sumatera, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyusun emergency action plan. “Jika habitatnya kurang dari 15 individu itu akan ditranslokasikan ke sanctuary, dimonitor sehingga proses reproduksinya bisa berkembang,” ungkap dia.

Menurut Adhi, pertimbangannya apabila populasi badak sedikit, karena proses reproduksi badak sangat sensitif. Maksud dari rencana aksi darurat diharapkan dapat mengembalikan perkembangan populasi badak Sumatera.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto menambahkan rencana aksi darurat dilakukan untuk menyelamatkan populasi badak. Salah satunya dengan membangun tempat pelestarian badak Sumatera (Sumatran Rhinos Sanctuary) di Aceh Timur.[]

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

12,731FansSuka
6,654PengikutMengikuti
32,100PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Artikel Terbaru