Macron Hina Islam, Produk Prancis Diboikot di Timur Tengah

Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengkritik umat Islam dan berjanji tidak akan melarang kartun Nabi Muhammad memunculkan reaksi keras berupa seruan untuk memboikot produk Prancis di dunia Arab.

Pernyataan Macron pada Rabu (21/10/2020) itu merupakan tanggapan atas pemenggalan Samuel Paty, di luar sekolahnya di pinggiran kota di luar Paris awal bulan ini, setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad selama kelas yang dia pimpin tentang kebebasan berpendapat.

Guru tersebut menjadi sasaran kampanye kebencian online atas pilihan materi pelajarannya atas gambar yang sama yang memicu serangan berdarah oleh pria bersenjata Islam di kantor majalah satir Charlie Hebdo, penerbit asli, pada Januari 2015.

Pada Sabtu (24/10), Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam terus berlangsungnya publikasi kartun Nabi Muhammad dengan alasan kebebasan berekspresi dan upaya mengaitkan Islam dengan terorisme.

Meski tidak secara langsung mengkritik, Presiden Prancis itu menyebut Paty dibunuh karena ‘Kelompok Islam ingin merebut masa depan kita’. Namun, kelompok oposisi Yordania Partai Front Aksi Islam menuntut Macron meminta maaf dan meminta warga negara itu untuk memboikot barang produk Prancis.

Boikot serupa telah berlangsung di Kuwait dan Qatar. Puluhan toko di Kuwait memboikot produk Prancis dengan gambar di media sosial memperlihatkan barang produk Prancis, seperti Kiri dan Babybel, disingkirkan dari rak toko. Di Kuwait, ketua dan anggota dewan direksi Perkumpulan Koperasi Al-Naeem memutuskan memboikot semua produk Prancis dan mengeluarkannya dari rak supermarket. Lalu, Asosiasi Dahiyat al-Thuhr mengambil langkah yang sama.

Di Qatar, perusahaan Wajbah Dairy mengumumkan boikot produk Prancis dan berjanji untuk memberikan alternatif mereka. Di Doha, pekerja toko menyingkirkan selai St Dalfour dan ragi Saf-Instant dari supermarket Al-Maera. Al-Maera bersaing dengan jaringan supermarket Prancis Monoprix dan Carrefour di pasar Qatar. Al Meera dan supermarket Qatar lainnya, Souq Al Balandi, Jumat (23/10), merilis pernuataan bahwa mereka akan menghilangkan produk asal Prancis dari toko mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Lebih lanjut, Al Meera Consumer Goods Company, sebuah perusahaan saham gabungan Qatar, mengumumkan di Twitter.

“Kami telah segera menarik produk Prancis dari rak kami hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kami menegaskan bahwa sebagai perusahaan nasional, kami bekerja sesuai dengan visi yang sejalan dengan agama kami yang benar, adat istiadat dan tradisi kami yang mapan, dan dengan cara yang melayani negara dan keyakinan kami serta memenuhi aspirasi pelanggan kami.”

Universitas Qatar juga bergabung dalam kampanye tersebut. Pemerintahannya telah menunda acara Pekan Budaya Prancis tanpa batas waktu, dengan alasan penyalahgunaan Islam yang disengaja dan simbol-simbolnya.

Beberapa perusahaan Timur Tengah telah mengumumkan boikot produk Prancis sebagai bentuk protes komentar yang dibuat Emmanuel Macron  tentang Islam. Macron mengatakan akan melawan “separatisme Islam”, yang menurutnya mengancam mengambil kendali di beberapa komunitas muslim di seluruh Prancis.

Dilansir dari Aljazeera di Jakarta, Senin (26/10/2020) Macron juga menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis” di seluruh dunia. Selain itu, dukungan terhadap penerbitan karikatur Nabi Muhammad juga menyebabkan kampanye media sosial yang menyerukan boikot produk Prancis dari supermarket di negara-negara Arab dan Turki.

Beragam tagar pun digaungkan seperti #BoycottFrenchProducts dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab #ExceptGodsMessenger trending di berbagai negara termasuk Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki.

Dewan Kerjasama Teluk (GCC) menggambarkan pernyataan Macron sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan mengatakan itu bertujuan untuk menyebarkan budaya kebencian di antara masyarakat.

Al-Hajraf meminta para pemimpin dunia menolak pidato kebencian dan penghinaan terhadap agama dan simbol-simbol mereka untuk menghormati perasaan umat Islam, alih-alih menjadi tawanan Islamofobia.

Pada hari Jumat, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengutuk apa yang dikatakan oleh Macron. Sekretariat organisasi yang berbasis di Jeddah itu mengatakan bahwa mereka terkejut dengan retorika politik resmi yang dikeluarkan oleh beberapa pejabat Prancis yang menyinggung hubungan Prancis-Islam dan memicu perasaan kebencian atas perolehan partai politik.

Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki dan sekutu utama Qatar pada Sabtu mengecam Macron atas kebijakannya terhadap Muslim, mengatakan bahwa presiden Prancis membutuhkan “pemeriksaan mental.” 

“Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini: pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental,” kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi dari Channel New Asia. [sultantv]

(Visited 9 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.