Ikatan Dokter Anak Indonesia memberikan usul kepada pemerintah untuk melakukan pengecekan urin satu tahun sekali kepada anak-anak sekolah seluruh Indonesia dengan tujuan mendeteksi dini adanya sindrom nefrotik pada anak. IDAI mengajukan usulan ini kepada Kementerian Kesehatan pada 8 Juli 2025.
Langkah yang dilakukan IDAI adalah untuk mencegah sindrom nefrotik atau kebocoran protein pada anak saat fungsi ginjal tidak bekerja dengan baik. Ditandai oleh kurangnya protein dalam jumlah besar dalam urin, kadar albumin rendah dalam darah, dan pembengkakan pada tubuh.
Sindrom nefrotik merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi pada ginjal akibat bocornya bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah atau glomerulus, sehingga menyebabkan bengkak atau edema. Gangguan ini bisa terjadi di salah satu ginjal atau keduanya. Sindrom nefrotik dapat terjadi kepada orang dewasa atau anak-anak.
Faktor risiko sindrom nefrotik sebagai berikut:
- Kondisi medis, seperti diabetes, lupus, dan amiloidosis.
- Penggunaan obat-obatan, seperti obat anti-radang atau antibiotik.
- Terkena infeksi, seperti HIV, hepatitis, dan malaria.
Gejala paling umum seseorang terkena sindrom nefrotik adalah terjadinya pembengkakan akibat penumpukan cairan dalam tubuh dan rendahnya protein dalam darah. Beberapa gejala lain, yaitu:
- Urin berbusa karena kelebihan kadar protein yang keluar dari tubuh.
- Meningkatnya berat badan karena penumpukan cairan dalam tubuh.
- Tubuh mudah lelah dan lemah.
- Nafsu makan menurun.
- Perut mual dan diare.
Jika gagal ginjal terjadi, pengidap harus menjalani cuci darah dan mengonsumsi obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah, kadar lemak dan kolesterol, penggantian albumin, serta obat pencegah penggumpalan darah.
Untuk mencegah sindrom nefrotik bisa dilakukan sejumlah cara, yaitu rutin mengontrol penyakit yang diidap dan meminum obat sesuai anjuran dokter, menerapkan pola makan yang tepat dan konsumsi makanan kaya nutrisi.
[Radika]





