BerandaUNING BOTEN?Inilah Akhir dari 3 Wabah Terparah di Dunia

Inilah Akhir dari 3 Wabah Terparah di Dunia

Saat peradaban manusia berkembang, begitu pula dengan penyakit menular. Banyaknya jumlah manusia yang hidup berdekatan dengan sesamanya dan juga hewan, menyediakan ruang bagi penyakit untuk berkembangbiak. Dan dengan semakin cepatnya mobilisasi antarmanusia, maka dengan mudah juga infeksi tersebar hingga akhirnya menyebabkan pandemi.

Sebelum COVID-19, dunia juga pernah mengalami beberapa  pandemi. Berikut lima wabah terparah dan bagaimana mereka akhirnya berakhir.

1. Wabah Justinian

Tiga dari  pandemi mematikan yang tercatat dalam sejarah, disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, organisme yang menyebabkan penyakit pes dan disebarkan melalui tikus.Infeksi fatalnya kemudian menyebabkan wabah di dunia. 

Disebut sebagai  wabah Justinian, ia pertama kali muncul di Konstatinopel, ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, pada 541 CE, dan kemudian menyebar seperti api melintasi Eropa, Asia, Afrika Utara dan Arab.  Wabah  ini menewaskan 30-50 juta orang yang diperkirakan hampir setengah dari populasi dunia kala itu. 

“Orang-orang tidak mengetahui bagaimana cara melawannya kecuali menghindari mereka yang sakit,” kata Thomas Mockaitis, profesor sejarah dari DePaul University. 

“Mengenai bagaimana  wabah berakhit, kemungkinan sebagian besar orang di tengah  pandemi tersebut entah bagaimana mampu bertahan hidup dan mereka yang selamat memiliki kekebalan,” ungkap Mockaitis. 

2. Wabah Maut Hitam atau Black Death

Wabah akibat bakteri Yersinia pestis tidak pernah benar-benar berakhir dan kembali 800 tahun kemudian.  Wabah Maut Hitam atau Black Death yang menyerang Eropa pada 1347, menewaskan 200 juta orang hanya dalam empat tahun. 

Meski belum diketahui dengan pasti bagaimana  wabah ini bisa berhenti, tapi menurut para ahli, itu berkaitan dengan jarak. Hal ini dilihat dari bagaimana para pejabat berpikiran maju di kota pelabuhan Ragusa yang dikuasai Venesia, memutuskan untuk mengisolasi para pelaut yang baru datang sampai mereka terbukti tidak sakit. 

Awalnya, para pelaut ditahan di kapal mereka selama 30 hari, yang kemudian dikenal dalam hukum Venesia sebagai trentino. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Venesia menambah waktu ‘isolasi paksa’ menjadi 40 hari atau quarantino–kata asli dari karantina yang kini dilakukan warga dunia saat menghadapi  wabah . 

“Cara tersebut tentu saja memberikan pengaruh dalam penanggulangan  wabah ,” ujar Mockaitis. 

3.  Wabah Besar LondonWikipediaWabah Besar London.

London tidak pernah beristirahat setelah Black Death.  Wabah terus muncul di wilayah tersebut setiap 20 tahun mulai dari 1348 hingga 1665–secara total terjadi 40  wabah dalam 300 tahun. Dan di setiap epidemi baru, sekitar 20 persen pria, wanita dan anak-anak yang tinggal di ibu kota Inggris itu terbunuh. 

Pada awal 1500-an, Inggris menerapkan kebijakan pertama untuk memisahkan dan mengisolasi warga sakit. Rumah-rumah yang dirasa memiliki wabah ditandai dengan tali jerami pada tiang di luar rumah. Jika memiliki anggota keluarga yang terinfeksi, makan Anda harus membawa tiang putih ketika keluar rumah. Anjing dan kucing yang dianggap berpotensi membawa penyakit pun dibunuh secara massal.

Wabah Besar 1665 merupakan wabah terakhir dan terparah London, membunuh 100 ribu orang dalam tujuh bulan. Semua sarana dan hiburan umum ditutup dan pasien terinfeksi dipaksa tinggal di dalam rumah untuk mencegah penyebaran penyakit. Salib merah dicat di pintu-pintu mereka beserta dengan permohonan ampunan: “Tuhan, kasihanilah kami”.[] 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular