More

    Grebeg Gunungan, Tradisi Berebut Gunungan di Yogyakarta saat Memperingati Hari Raya Idul Adha

    Dalam memperingati hari raya Idul Adha umat Islam di Yogyakarta akan menggelar tradisi Grebeg gunungan. Ini mirip seperti tradisi yang dilakukan masyarakat Semarang, masyarakat Yogyakarta juga mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai masjid gedhe Kauman.

    Ada tiga gunungan yang diarak terdiri dari rangkaian sayur-mayur dan buah. Tak hanya saat Idul Adha, di Yogyakarta tradisi ini juga digelar setiap hari besar agama Islam lainnya, misalnya saja saat idulfitri ada acara Grebeg Syawal.

    Tradisi Grebeg Besar pertama kali digelar oleh di Keraton Yogyakarta pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono I di tahun 1725 Masehi. Sebutan Garebeg atau yang umumnya disebut ‘Grebeg’ berasal dari kata ‘gumrebeg’, yang mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan masyarakat pada saat berlangsungnya tradisi ini.

    Tradisi Grebeg Besar yang digelar untuk memperingati Hari Raya Idul Adha ini menjadi simbol perpaduan budaya Jawa dan ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Yogyakarta. Berbeda dengan Hari Raya Idul Adha yang dilaksanakan secara nasional di lingkungan Keraton Yogyakarta, penentuan Hari Raya Idul Adha di lingkungan Keraton Yogyakarta ini merujuk pada penanggalan buatan Sultan Agung.

    Grebeg Besar menjadi salah satu cara melestarikan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun. Adapun gunungan berisi berbagai macam hasil bumi seperti roti gandum, kacang panjang, cabai, bawang, dan lain-lain yang disusun menyerupai gunung membentuk kerucut menjadi bentuk ucapan syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui hasil bumi yang melimpah. Adapun selain Selain Grebeg Besar, Keraton Yogyakarta juga menggelar tradisi Grebeg Syawal dan Grebeg Mulud, pada Hari Raya Idul Fitri dan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya.

    Perayaan Grebeg Besar menggunakan tujuh gunungan

    Pada tradisi Grebeg Besar Keraton Yogyakarta akan ada tujuh gunungan hasil bumi yang akan diarak oleh para prajurit. Ketujuh gunungan tersebut terdiri dari satu Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Darat, dan Pawohan dan dua Gunungan Kakung. Lima gunungan akan diarak menuju Masjid Gedhe Kauman, sementara dua Gunungan Kakung akan diarak menuju Kantor Kepatihan dan Pura Pakualaman.

    Pengawal gunungan terdiri dari para prajurit yang disebut bregada yakni Bregada Wirabraja, Bregada Daeng, Bregada Patangpuluh, Bregada Jagakarya, Bregada Prawirotama, Bregada Nyutra, Bregada Ketanggung, Bregada Mantrijero, Bregada Surakarsa, dan Bregada Bugis. Bregada Surakarsa akan mengawal lima gunungan yang dibawa ke Masjid Gedhe Kauman, sementara Bregada Bugis akan mengawal satu Gunungan Kakung yang akan dibawa ke Kepatihan.

    Sementara untuk Gunungan Kakung yang dibawa ke Pura Pakualaman akan dikawal Bregada Pakualaman yang bernama Dragunder dan Plangkir, serta pasukan gajah. Delapan bregada lain akan berjaga dari sisi utara hingga selatan di halaman Keraton Yogyakarta, tepatnya di tengah Alun-alun Utara.[]

    Artikel Terkait

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    10,527FansSuka
    16,400PengikutMengikuti
    36,400PelangganBerlangganan
    - Advertisement -

    Artikel Terbaru