Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) Gita Syahrani mengatakan Indonesia yang ideal adalah pada saat Indonesia bisa menjadi negara yang melindungi semua potensi alam yang ada, tetapi juga memanfaatkannya secara optimal.
Gita menambahkan, Indonesia menjadi ideal saat tidak lagi bergantung dengan hal-hal yang sifatnya ‘rakus’ terhadap lahan dan hanya menjual komoditas bahan mentah saja.
“Fokus sama sektor ekstraktif itu tuh udah bukan pilihan lagi, artinya diarahkannya tuh justru ke hilirisasi dan produk bernilai tambah,” ungkapnya saat menjadi narasumber program Cita Perempuan yang tayang di SultanTV, pada Jumat (5/11/2021).
Lebih lanjut, Gita menyebut produk hilirisasi berbasis alam yang ramah lingkungan dan ramah sosial memiliki tiga kriteria dan ciri-ciri, salah satunya produk tersebut tidak mengakibatkan kebencanaan.
Kriteria lainnya adalah produk tersebut dapat menyejahterakan petani, pekebun, peternak, nelayan, dan pekerja lainnya yang berada di dalam rantai pasoknya.
“Jadi, jangan sampai didemo karena enggak dibayar dan lain-lain gitu. Jangan sampai harganya dari petani sampai ke konsumen tuh jauh banget gitu. Itu (mereka) disejahterakan,” ujarnya.
Lalu, kriteria terakhir produk hilirisasi berbasis alam yang ramah lingkungan adalah produk yang dihasilkan tersebut bertanggung jawab dari penggunaan energi dan juga pengolahan limbahnya.
Terkait hal itu, Gita mencoba membuat berbagai inisiatif atau bekerjasama dengan banyak orang untuk bergotong-royong merealisasikan inisiatif tersebut. Tujuannya, agar semua aspek di dalam ekosistem tersebut dapat saling berhubungan.
Salah satu gerakan yang diinisiasinya adalah Si Dalang (Kreaksi Daur Ulang) yang mengisi ceruk bagaimana produsen dapat bertanggung jawab dengan baik terhadap sampah-sampah yang dihasilkan dari produknya sendiri.
“Seringkali, mereka bingung gitu, ‘gimana sih caranya gitu?’ Gimana kalau kita bisa connect-in sama ibu-ibu di rusun (rumah susun) yang ternyata butuh penghasilan. Akan sangat menarik gitu,” katanya.
Sebelumnya, gerakan Si Dalang juga pernah menjalin kerja sama dengan MRT Jakarta. Saat itu setelah Asian Games, MRT Jakarta memiliki banyak sekali banner bekas, sebab sepanjang jalur MRT dipasang banner dalam rangka memeriahkan Asian Games Jakarta-Palembang 2018.
Banner-banner tersebut diambil Gita dan kawan-kawan yang kemudian dikerjasamakan dengan ibu-ibu rusun. Ibu-ibu rusun tersebut membuat produk totebag dari banner tersebut, tetapi kreasi totebag tersebut langsung diambil kembali oleh MRT Jakarta sebagai merchandise (suvenir) reguler.
“Itu kan konsep di mana pada akhirnya kita juga tidak sekedar mengajarkan kapasitas tapi betul-betul menjamin akses pasar juga buat produknya. Itu ekosistem pengelolaan limbah,” imbuhnya.
Contoh lainnya adalah gerakan ‘Hutan itu Indonesia’ yang juga digagas olehnya. ‘Hutan itu Indonesia’ merupakan gerakan yang mengingatkan kembali komunitas urban, terutama yang berusia 17—35 tahun di kota-kota besar yang jarang melihat hutan-hutan.
Gerakan ini mengajak generasi muda untuk mengingat kembali bahwa Indonesia seharusnya bangga memiliki identitas sebagai pemilik hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia.
Sehingga ‘Hutan itu Indonesia’ fokus di spektrum bagaimana caranya produk jasa dan lain-lain yang dihasilkan itu tidak sampai menimbulkan kebencanaan.
“Kenapa jangan sampai? Itu kan kita sayang sama hutannya. Kenapa harus sayang? Karena ternyata hutan itu berpengaruh banyak sama kehidupan sehari-hari. Hutan itu yang menghasilkan oksigen, jadi kita bisa nafas gitu kan. Itu menghasilkan air bersih, jadi kita setiap hari bisa minum bisa mandi dan lain-lain,” tambahnya.
Gita percaya, Indonesia yang ideal dapat terwujud dengan cara gotong royong. Ia meyakini, semua orang harus bekerja sama enggak, tidak akan bisa menyelesaikan sesuatu sendirian.
Menurutnya, Indonesia yang berideologikan Pancasila memiliki salah satu prinsip dari lima sila yaitu gotong royong. Sehingga, penting bagi semua orang untuk membuat ekosistem agar kegotongroyongan bisa terbangun dengan baik.





