More

    Filosofi di Balik Lezatnya Kue Delapan Jam Khsa Palembang

    Di balik kelezatan rasanya, kue ini juga mengandung nilai kehidupan yang menjadi pegangan masyarakat Palembang pada zaman dahulu. Sesuai dengan namanya, kue ini membutuhkan waktu delapan jam untuk pengukusan, tidak boleh lebih maupun kurang.

    Kue delapan jam memiliki warna coklat kekuningan dengan pori–pori kecil yang tampak pada tiap potongannya. Teksturnya sendiri lembut dan agak sedikit kenyal. Ketika sampai di lidah, rasa legit dengan sensasi basah akan ‘pecah’ di mulut dengan kenikmatan yang tiada duanya.

    Pada zaman dahulu, hanya masyarakat kelas atas saja yang bisa menikmati kue ini. Hal ini beralasan, sebab bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kue delapan jam cukup mahal. Sebenarnya, bahan kue delapan jam cukup sederhana, seperti telur, margarin, kental manis, dan gula.

    Hanya saja, jumlah telur yang dibutuhkan untuk kue ini setidaknya haruslah 20 butir. Bahan ini termasuk cukup mahal pada zaman dahulu, apalagi telur menjadi pilihan utama untuk lauk pauk masyarakat menengah ke bawah.

    Seiring dengan perubahan zaman, hampir semua lapisan masyarakat sudah bisa menikmati kue ini. Bahan-bahannya pun sudah sangat mudah untuk didapatkan.

    Kue ini kerap jadi hidangan utama ketika hari besar atau perayaan tertentu. Kalau kamu datang ke Palembang ketika bulan puasa atau Idul Fitri, sebagian besar rumah akan menyediakan kudapan ini.

    Kue yang menjadi warisan budaya takbenda Sumatera Selatan ini kaya akan nilai filosofis mengenai kehidupan dan ketuhanan.

    Pertama, nilai ini tersirat pada proses pembuatannya yang memakan waktu berjam-jam. Ini memiliki arti bahwa kehidupan harus dijalani dengan sabar sebelum mencapai tujuan. Jika ada yang mencoba mengukus kue ini dengan waktu kurang dari 8 jam, cita rasanya pun tidak akan maksimal. Kue akan menjadi lembek dan tak berpori.

    Seperti dilansir goodnewsfromindonesia.id, pemilihan waktu delapan jam ini juga punya alasan. Menurut sejarawan Palembang bernama Mang Amin, ini ada kaitannya dengan pembagian waktu dalam hidup.

    Di mana dalam 24 jam waktu dalam sehari, setidaknya kita harus membaginya dengan 3 kegiatan yang berbeda selama 8 jam. Yaitu 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk istirahat, dan 8 jam untuk beribadah.

    Angka 8 juga melambangkan jumlah orang yang mengangkat keranda kita ketika tutup usia nanti. Artinya, kita harus ingat bahwa hidup di dunia hanya sementara.[]

    Artikel Terkait

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    10,527FansSuka
    16,400PengikutMengikuti
    37,500PelangganBerlangganan
    - Advertisement -

    Artikel Terbaru