FKPT Banten Fokuskan Tokoh Agama dan Perempuan Sebarkan Moderasi Beragama

Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) provinsi Banten menggelar acara diskusi yang membahas tentang peranan penting dari tokoh agama dan tokoh perempuan dalam membumikan moderasi beragama di Banten pagi tadi di ballroom Rahaya Resto Kecamatan Kalang Anyar, Lebak Banten (23/10/20).

Kegiatan yang dilakukan secara terbatas dan menerapkan protokol kesehatan tersebut dihadiri langsung oleh ketua FKPT Banten, Amas Tadjuddin yang menuturkan bahwa dirinya meyakini perempuan mampu menaklukan banyak persoalan salah satunya pemahaman beragama secara baik.

“Perempuan merupakan tokoh yang dapat menaklukan tanda petik setiap minimal anggota keluarga dan tetangganya serta sanggup memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya karena perempuan paling banyak menghabiskan waktunya mendidik anak,” ujar Amas saat ditanya kenapa harus peran perempuan dalam membumikan moderasi beragama.

Selaras dengan Amas, Kepala Badan Kesbangpol Banten Ade Ariyanto juga mengatakan peran perempuan sangat strategis dalam penyebaran moderasi agama.

“Sangat-sangat strategis peran perempuan ini khususnya ibu-ibu karena mereka paling banyaj waktunya dengan anak terutama dalam pengawasan pendidikan, ” kata Ade kepada Sultantv.

Sementara itu hadir juga Asda 1 Lebak, Alkadri yang mengatakan bahwa moderasi di kabupaten Lebak saat ini cenderung landai dan tidak ada konflik yang berlatar sikap intoleran.

“Kalo di Lebak kami lihat kondisinya landai-landai saja, jadi belum terlihat adanya hal-hal yang signifikan soal konflik akibat sikap radikal dan intoleran,” ujar Alkadri.

Terkait peranan perempuan dalam moderasi beragama, Ketua pelaksana kegiatan sekaligus Kabag Perempuan dan Anak FKPT Banten, Siti Nurasiah mengatakan langkah paling konkret yang bisa dilakukan perempuan adalah memberikan pemahaman tentang keberagaman kepada putra-putrinya di rumah.

“Hal yang paling konkret yang bisa dilakukan perempuan terutama ibu-ibu di rumah ialah bisa mulai memberikan pemahaman soal keberagaman kepada anak-anaknya di rumah, bahwa keberagaman itu merupakan hal alamiah dan tidak mesti dihadapi dengan emosi,” kata perempuan yang akrab disapa Ciah tersebut.

Acara tersebut berlangsung dengan lancar serta mendapatkan respon positif dari banyak pihak seperti mahasiswi, tokoh perempuan dan tokoh agama. (Adv/AM)

(Visited 11 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.