Dataran Tinggi Bisa Hambat Pertumbuhan Anak, Benarkah?

Studi global ini mendapati anak yang lahir di daerah dengan ketinggian di atas 5.000 kaki atau 1.500 meter di atas permukaan laut biasanya memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil saat lahir. Pertumbuhan dan tinggi badan mereka juga lebih mungkin untuk terhambat dan mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang lahir di dataran rendah.

Menurut studi ini, pertumbuhan yang terhambat itu tetap terjadi bahkan saat anak dibesarkan dalam lingkungan rumah yang ideal dengan kesehatan yang baik, kondisi kehidupan yang baik, dan ibu yang berpendidikan tinggi.

Studi yang baru saja dipublikasikan di JAMA Pediatrics (24/8) ini menganalisis data tinggi badan lebih dari 950 ribu anak di 59 negara di dunia. Studi ini menemukan lebih dari 800 juta orang hidup di ketinggian di atas 1.500 meter atau lebih di atas permukaan laut di dunia.  Sebanyak dua pertiganya berada di Afrika Sub-Sahara dan Asia.

Hasilnya, peneliti menemukan pertumbuhan dan tinggi badan anak menurun saat ketinggian bertambah. Menurut penelitian ini lingkungan rumah yang ideal sesuai dengan standar WHO untuk tumbuh kembang anak berada pada sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut, tinggi badan anak mulai menurun.

Pada ketinggian di atas 1.500 meter di atas permukaan laut anak akan lebih pendek dan tetap pada pertumbuhan tak optimal dibandingkan dengan anak yang tinggal di dataran rendah.

“Setelah lahir, kurva pertumbuhan untuk anak-anak di daerah 1.500 meter atau lebih di atas permukaan laut secara konsisten lebih rendah, menyiratkan terbatasnya mengejar ketertinggalan untuk tingkat pertumbuhan anak-anak yang tinggal di daerah yang lebih rendah dari 1.500 meter di atas permukaan laut,” temuan dari studi tersebut.

Menurut penelitian ini, pertumbuhan yang terhambat sebagian besar terjadi pada periode menjelang dan setelah kelahiran. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh oksigen yang lebih rendah di tempat yang lebih tinggi.

“Kehamilan di dataran tinggi ditandai dengan hipoksia kronis, atau suplai oksigen yang tidak memadai, yang secara konsisten dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi pada hambatan pertumbuhan janin,” kata peneliti Kalle Hirvonen dari dari International Food Policy Research Institute.

Peneliti menyarankan agar tenaga kesehatan profesional dapat membantu mengontrol efek ketinggian pada janin untuk mencegah stunting.

“Langkah pertama adalah mengungkap hubungan kompleks yang menghubungkan ketinggian, hipoksia, dan pertumbuhan janin untuk mengidentifikasi intervensi atau pencegahan yang efektif,” kata rekan peneliti Kaleab Baye.

Tubuh yang kecil dan pertumbuhan yang terhambat atau stunting dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan.  Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tumbuh lebih pendek dan lebih lambat di ketinggian yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan risiko defisit kognitif dan gangguan perkembangan metabolik yang terkait dengan penyakit kronis di masa depan.[]

(Visited 4 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.