Buka Puasa Bersama, dari Mana Muasalnya?

Di bulan Ramadan, aktivitas maupun jam kerja tak sebanyak biasanya. Namun ada satu hal yang jelas bertambah yakni agenda makan bersama atau buka puasa bersama (bukber) di bulan Ramadhan. Undangan atau ajakan bukber biasanya dari rekan kerja, teman SMA, atau bahkan bersama anak-anak panti asuhan.

Aktivitas ini terus dilakukan hingga seolah jadi tradisi. Mereka yang nonMuslim pun kadang ‘kecipratan’ ikutan buka bareng. Selain untuk menghormati teman yang berpuasa, ikutan bukber ini juga dilakukan agar bisa berkumpul dengan teman-teman lainnya.

Rupanya kelekatan aktivitas bukber dengan umat Islam Indonesia merupakan wujud pertemuan budaya ketimuran dan ajaran Islam. Devie Rahmawati, pengamat sosial vokasi Universitas Indonesia mengatakan sebenarnya dalam ajaran Islam sendiri ada hadis yang berbunyi :

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

Hadis ini, kata dia, kemudian relevan dengan hadis-hadis lain yang mengatakan bahwa marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Ajaran Islam ini kemudian bertemu dengan budaya ketimuran yang kolektif.

Sebenarnya tradisi bukber tak hanya dilakukan di Indonesia tapi di mana pun umat Islam berada.

Meski demikian, bukan berarti tradisi makan bersama ini ada setelah masuk ajaran Islam ke Indonesia. Devie menjelaskan sebelum periode masuknya Islam ke Indonesia pun, kondisi geografis dan karakter masyarakat timur memperkuat tradisi bukber.

Bicara keadaan geografis, kondisi cuaca maupun iklim yang termasuk hangat kemudian karakter ketimuran yang suka berkumpul. Devie menganggap ini sudah jadi bagian dari DNA orang-orang timur.

“Jadi bukan berarti (berkumpul) cuma ada saat ada Islam. Sebelum Islam pun DNA kumpul-kumpul itu sudah ada. Itu kemudian semakin memperkuat kehadiran Islam,” kata dia.

“Terlepas dari adanya bulan suci Ramadan atau tidak, kita melihat masyarakat kita ketika sudah berdiskusi panjang di media sosial, lalu ‘yuk ketemuan yuk’. Itu menunjukkan ciri dari masyarakat komunal.”[]

(Visited 12 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.