Bagaimana Cara Kerja Obat Remdesivir Atasi Corona?

Obat remdesivir dipercaya efektif untuk mengatasi Covid-19. Kenali cara kerja obat remdesivir. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penggunaan obat remdesivir untuk mengatasi Covid-19 dengan ketentuan ‘emergency use‘. Dengan ketentuan ini, artinya obat hanya akan tersedia di rumah sakit dan tidak diperjualbelikan di apotek.

Dokter spesialis paru Erlina Burhan mengatakan, remdesivir akan diberikan secara intravena atau infus selama masa pengobatan 5-10 hari pada pasien Covid-19 bergejala berat atau dalam kondisi kritis. Hanya pasien dengan saturasi oksigen di bawah 94 persen atau yang dirawat dengan menggunakan ventilator lah yang akan mendapatkan remdesivir.

“Untuk [pasien Covid-19] yang berat, angka keberhasilannya tidak terlalu besar. Maka, remdesivir bisa menjadi salah satu pilihan,” ujar Erlina, dalam konferensi pers peluncuran obat remdesivir Covifor di Jakarta, Kamis (1/10).

Pada dasarnya, remdesivir merupakan obat antivirus yang dianggap potensial untuk mengatasi Covid-19. Obat dinilai dapat meminimalisasi tingkat keparahan pada pasien. Sebelum ini, remdesivir juga telah lebih dulu digunakan untuk mengatasi wabah Ebola.

Cara kerja utama obat remdesivir adalah dengan menghambat proses replikasi virus SARS-CoV-2. Dengan penghambatan tersebut, lanjut Erlina, tingkat keparahan yang diakibatkan infeksi virus corona tidak meluas dan bisa ditekan. “Sistem imun kita juga akan bisa mengendalikan virus,” ujar Erlina.

Saat virus SARS-CoV-2 masuk ke dalam tubuh, ia akan menempel pada reseptor ACE2 yang umum ditemukan di saluran pernapasan. Setelah menempel dengan ACE2, virus akan masuk ke jaringan paru dan mereplikasi tubuhnya.

“Remdesivir kerjanya berkompetisi, sehingga mencegah terjadinya proses replikasi,” kata Erlina. Dengan masuknya remdesivir, diharapkan proses sintesis dari RNA virus bisa terhambat dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

Namun, perlu dicatat, penggunaan remdesivir juga diduga bisa menimbulkan beberapa efek samping. Erlina mengatakan, obat ini diduga dapat menyebabkan gangguan pada organ hati dan ginjal.

“Obat redemsivir diduga dapat meningkatkan enzim hepatik,” kata Erlina. Peningkatan enzim hepatik dapat memicu peradangan dan kerusakan pada organ hati.

Selain itu, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat juga mencatat bahwa remdesivir juga bisa memicu reaksi alergi. Beberapa gejala bisa ditimbulkan mulai dari mual, muntah, hingga sesak napas.

Untuk itu, Erlina menegaskan bahwa obat tak bisa diberikan pada pasien dengan riwayat alergi serta memiliki kelainan pada hati dan ginjal.

Obat remdesivir versi generik dengan merek dagang Covifor siap didistribusikan ke seluruh Indonesia sejak Kamis (1/10). Covifor merupakan obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi multinasional asal India, Hetero. Di Indonesia, Covifor didistribusikan oleh Kalbe Farma bekerja sama dengan Amarox Pharma Global.[]

(Visited 5 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.