BerandaBERITAMengenal Tiwah, Tradisi Upacara Kematian Suku Dayak Ngaju

Mengenal Tiwah, Tradisi Upacara Kematian Suku Dayak Ngaju

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak ragam suku dan budaya, tradisi dan kebiasaan unik yang ada tentu menjadi daya tarik bagi masyarakat. Ada banyak tradisi upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia dan telah berlangsung dari zaman dahulu hingga saat ini. Salah satu tradisi unik yang yang masih jarang dikenal adalah tradisi tiwah dari Suku Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah.

Tiwah merupakan upacara kematian yang bertujuan menghantarkan roh manusia menuju Lewu Tatau atau surga, tradisi ini dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat Dayak Ngaju yang meyakini bahwa kematian adalah hal akhir yang akan dijalani oleh manusia di bumi serta langkah awal menuju dunia keabadiaan yang penuh kesucian maka perlu adanya suatu penghormatan terakhir yang dapat dilaksanakan.

Upacara tiwah ini sudah menjadi hal wajib yang harus dilakukan secara moral dan sosial dan menjadi tanggung jawab pihak keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat Dayak Ngaju percaya jika pihak keluarga tidak melakukan upacara tiwah, maka arwah tersebut akan terperangkap di dunia dan akan selalu berada di lingkungan manusia, terlebih lagi mereka percaya hal tersebut akan membawa kesialan dan malapetaka.

Bagi masyarakat Dayak Ngaju upacara kematian terbagi menjadi dua yaitu upacara yang dilakukan segera setelah seseorang meninggal dunia sampai saat saat penguburan sementara dan upacara tiwah yang dikenal sebagai upacara penguburan kedua yang dilaksanakan setelah setahun atau beberapa tahun setelah seseorang meninggal.

Tahapan yang dilakukan pada upacara tiwah antara lain, memilih dan menentukan pemimpin upacara yang biasanya terdiri tujuh atau sembilan orang dengan menentukan satu pimpinan (upo). Menyiapkan  peralatan upacara seperti balay tiwah, sangkay raya, sandung, sapundu, pantar, bara-bara, pasah pali, garantung (gong), pemahay, hewan korban.

Upacara tiwah diawali dengan dikumpulkannya jenazah pada satu tempat khusus yang disebut balai nyahu kemudian pihak keluarga akan membuat bendera sejumlah jenazah yang akan ditiwahkan dilanjut dengan persembahan tarian sakral manganjan dan menombak hewan kurban seperti sapi, kerbau atau babi yang kepalanya dipenggal dan dikubur sementara dagingnya dimasak dan dimakan bersama-sama.

Keunikan tradisi yang dimiliki suku-suku yang ada di Indonesia bukan hanya sebagai bentuk kepercayaan namun juga bisa menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang dapat menarik wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Pada tahun 2014 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menetapkan tiwah menjadi salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular