Bank Indonesia (BI) melirik usaha tempe sebagai mitra dalam upaya penguatan ekonomi masyarakat. Bertempat di Gedung Creative Center, Lingkungan Kadipaten, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, Selasa (5/10), BI memberikan pelatihan kepada para pengusaha tempe yang ada di Kota Cilegon.
Kepala Bank Indonesia Provinsi Banten, Erwin Soeriadimadja menjelaskan, alasan dipilihnya pengembangan usaha tempe di Kota Cilegon dikarenakan usaha tersebut dipandang dekat dengan UMKM dan dianggap mampu menguatkan ekonomi masyarakat.
Selain itu, kata dia, yang kedua, tempe itu memiliki potensi pasar yang besar yang datang dari masyarakat. Ini dikarenakan banyak yang menyukainya dan banyak gizi serta negara luar juga banyak yang suka,” jelasnya.
Lebih lanjut kata dia, tempe itu, juga akan dijadikan warisan budaya kuliner oleh Kementerian Pariwisata dan Kreatif.
“Ini dilakukan supaya tempe bisa mendunia dan Cilegon bisa berkontribusi”, imbuhnya.
Sementara, Walikota Cilegon Helldy Agustian mengatakan,pengusaha tempe bukan pengusaha sembarangan, melainkan pengusaha besar.
“Pengusaha tempe ini bukan pengusaha sembarangan. Pengusaha tempe itu pengusaha yang besar dan sudah terbukti, tinggal kitanya mau atau tidak,” katanya.
Helldy menambahkan, setiap pengusaha pasti memiliki proses menjadi orang berhasil, termasuk pengusaha tempe.
“Semua itu based on process, jangan cuma mimpi mau jadi pengusaha tempe besok langsung kaya. Semua itu ada prosesnya. Jadi yang dilihat itu prosesnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Helldy berharap, pengusaha tempe dapat berkembang dan menciptakan sejarah.
“Kita itu diciptakan untuk membuat sejarah bukan mengikuti sejarah. Misal bapaknya pembuat tempe maka anaknya harus menjadi pengusaha tempe, itu namanya membuat sejarah,” tandasnya. (mam)





