LEBAK – Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi memberi penjelasan terkait simpang siurnya kabar pembangunan sekolah di wilayah Baduy. Diketahui, mayoritas masyarakat Baduy sendiri tidak banyak yang menempuh pendidikan formal lantaran hal tersebut bertentangan dengan hukum adat.
Ade Sumardi mengatakan, dirinya tidak bermaksud untuk merubah budaya Baduy. Namun, ia menekankan pentingnya untuk bisa membaca, menulis dan berhitung (Calistung).
“Maaf itu perlu di luruskan, kami tidak akan membuat sekolah di Baduy,” kata Ade Sumardi, Selasa (9/8/2022).
Penegasan ini merupakan bantahan terhadap isu yang berkembang bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak ingin membuat sekolah di Baduy.
“Yang benar adalah walaupun orang baduy tidak sekolah formal akan tetapi anak-anak Baduy harus bisa baca, tulis, dan hitung. Agar orang Baduy tidak tertipu apabila ada transaksi jual beli,” tambahnya.
Menurut Ade, Pemkab Lebak sangat menghormati keyakinan dan adat masyarakat Baduy. Namun, Pemkab Lebak siap membantu agar anak-anak Baduy cakap calistung.
“Kami tetap menghargai dan menghormati keyakinan adat masyarakat Baduy,” kata Ade.
Oleh karena itu, pihaknya akan menyesuaikan pendidikan tersebut sehingga tidak bertabrakan dengan adat Baduy.
“Bagaimana caranya agar mereka bisa calistung itu disesuaikan dengan adat dan budaya mereka kita tidak bisa ikut campur soal itu,” pungkas Ade.





