Tren Kejahatan Pada Anak dari Medsos Meningkat Selama Pandemi

Tindak kejahatan seksual pada anak di masa pandemi banyak dimulai dari medsos. Edukasi dan pemahaman kepada masyarakat untuk pendampingan anak sangat dibutuhkan.

Itu yang diungkapkan Muhamad Uut Lutfi SH., MH., Ketua LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Provinsi Banten seusai menjadi pembicara pada Bincang Hari Ini Sultan TV, Senin (21/9).  Tren ketika pandemi kejahatan dan kekerasan pada anak dimulai dari medsos. Pembelajaran secara daring dan tidak tatap muka mengharuskan anak-anak mengakses gawai. Dari yang sebelumnya saat pembelajaran tatap muka, penggunaan gawai di kalangan anak-anak dibatasi, berbeda halnya saat daring. Anak-anak justru sangat leluasa. Dari sinilah anak-anak mengakses apapun termasuk konten dewasa dan berkomunikasi dengan orang-orang di media sosial.

“Tidak adanya edukasi orangtua tentang teknologi dan pengawasan yaang tidak ketat, membuat anak-anak bebas berselancar di medsos. Ada peralihan kebiasaan, sebelum pandemi penggunaan gadget dibatasi, saat pandemi malah sebaliknya. Selama pandemi ini ada peningkatan laporan, tindakan kejahatan dan kekerasan pada anak beraawal dari medsos,” jelas dosen hukum tatanegara Untirta ini.

Kasus terbaru, kata dia, anak korban kekerasan yang terjadi di Tangerang dan dikubur di Lebak. Penyebabnya adalah orangtua ya emosi karena sang anak tidak kunjung mengerjakan tugas sekolah secara daring.  KDRT (kekeraasan dalam rumah tangga) justru meningkat saat pandemi. Ini karena orangtua yang tidak dibekali pemahaman sebagai guru, harus berperan ganda sebagai orangtua juga guru.

Diakui Uut, tren kejahatan banyak terjadi di perkampungan. Ketersediaan lahan-lahan yang kerap dijadikan lokasi kejahatan pada anak seperti kebun, kandang, juga rumah kosong yang menyebabkan pelaku kejahatan leluasa. Meski begitu, di perkotaan juga banyak terjadi kekerasan dan kejahatan pada anak. Bahkan di salah satu pemukiman elit perkotaan, kata dia, korbannya tidak hanya satu orang.

“Korbannya usia SD dan SMP. Ini usia-usia rawan. Mereka sudah bisa menggunakan gadget. Konten pornografi yang mereka lihat juga berpengaruh. Di samping itu saat ada predator kejahatan anak, anak-anak tidak mengenali motif. Ketika diancam pun anak-anak takut,” jelasnya.

Sedangkan di usia SMA, kasus kejahatan terjadi lebih pada pergaulan yang salah. Padahal sudah tahu tidak baik, tetap dilakukan.  

Peran pemerintah sangat penting dalam menekan angka kekerasan dan kejahatan pada anak. Karena itulah LPA berharap baanyak keberadaan pusat rehabilitasi anak di Banten. Deteksi dini pada trauma psikis anak akibat KDRT itu sangat penting. Jika hal ini tidak dilakukan, nantinya saat dewasa, akan memicu sang anak menjadi pelaku. Menurut Uut, predator anak hari ini dulunya adalah korban.

“Kami menginginkan sosialisasi ancaman pidana yang berat pada pelaku kejahatan dan kekerasan seksual pada anak digencarkan. Ketidaktahuan masyarakat tentang sanksi ini membuat para pelaku semakin gencar melaksanakan aksinya. Padahal sanksinya cukup berat, bisa sampai dikebiri,” tuturnya.  

Para orangtua saat ini, nilai Uut, belum banyak yang menempatkan diri sebagai teman. Anak-anak masih takut mengkomunikasikan masalahnya. Jadi saat mereka menemui masalah, mereka cenderung menyimpannya rapat-rapat. Pola komunikasi yang tidak demokratis dan otoriter menjadi salah satu penyebab semakin panjangnya daftar kasus kekerasan dan kejahatan pada anak. (sultantv)   

(Visited 10 times, 4 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.