Industri perfilman Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran film bertema sosial yang dibalut dalam komedi satir dan drama penuh emosi. Jadi Tuh Barang menjadi salah satu film paling dinanti pada September 2025. Disutradarai oleh Kemal Palevi, film ini bukan sekadar menghadirkan gelak tawa, tapi juga merefleksikan realita pahit kehidupan anak muda masa kini: sulitnya mencari pekerjaan, tekanan keluarga, dan dinamika cinta.
Film ini digarap oleh eKOMIK Pictures, sebuah rumah produksi baru yang dibentuk dari semangat para komika Indonesia untuk menyajikan hiburan lokal yang segar dan relevan. Dengan kolaborasi antara nama-nama besar di dunia komedi seperti Oki Rengga, Dicky Difie, Steven Wongso, Ge Pamungkas, hingga aktris muda berbakat Beby Tsabina, Jadi Tuh Barang menjadi proyek ambisius yang penuh warna.
Cerita film Jadi Tuh Barang dimulai dari kisah seorang pemuda bernama Bonar, diperankan oleh komika Oki Rengga, yang mengalami serangkaian krisis dalam hidupnya. Baru saja diputuskan oleh sang kekasih, Cantika (Beby Tsabina), Bonar juga dibebani tekanan dari ayahnya yang sedang sakit dan mendesaknya untuk segera menikah.
Bonar tak sendirian. Ia menjalani hari-hari berat bersama dua sahabatnya, Awang (Dicky Difie) dan Wongso (Steven Wongso), yang juga sama-sama sedang kesulitan hidup. Mereka bertiga adalah potret nyata dari generasi muda yang terjebak di antara idealisme dan realita keras kota besar.
Situasi semakin pelik ketika mereka bertiga menerima tawaran yang tak biasa, menjadi pawang hujan. Awalnya dianggap konyol dan tidak masuk akal, pekerjaan ini justru membuka jalan bagi petualangan kocak dan emosional yang mengubah cara mereka memandang hidup.
Walau dikemas dalam genre komedi, film ini jauh dari sekadar humor tanpa makna. Penulisan naskah oleh David Nurbianto, Iyam Renzia, dan Luqman Baehaqi menyisipkan kritik sosial tajam terhadap minimnya lapangan pekerjaan dan ekspektasi berlebihan dari masyarakat terhadap kaum muda.
Kemal Palevi mengungkap bahwa ide cerita ini lahir dari keresahan pribadi terhadap fenomena pengangguran, khususnya bagi fresh graduate yang merantau ke kota dengan harapan tinggi, namun akhirnya harus bertahan hidup dengan cara apapun.
Gaya penulisan yang satir namun tetap hangat membuat Jadi Tuh Barang terasa dekat dengan penonton dari berbagai latar belakang. Bagi yang pernah merasakan tekanan untuk “cepat sukses”, film ini bisa menjadi pengingat bahwa perjalanan tiap orang itu unik.[Nindya]



