BerandaBERITASDN Cikerut Berlakukan Sidang Uji Karya Seperti Sidang Skripsi

SDN Cikerut Berlakukan Sidang Uji Karya Seperti Sidang Skripsi

CILEGON – Ujian sidang karya tulis, biasanya hanya terjadi di perguruan tinggi untuk pendidikan strata satu (S1), Pascasarjana magister (S2), dan program doktoral (S3). Dari tiga program tersebut ketika mahasiswa akan menyelesaikan studinya sebagai mahasiswa, maa terlebih dulu harus membuat Skripsi untuk S1, membuat Thesis untuk S2, dan Disertasi untuk S3.

Sebenarnya di jenjang sekolah juga sudah ada. Namun baru ada di Sekolah Menengah Atas (SMA). Sedangkan untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SD belum ada.

Menanggapi hal ini, Kepala SDN Cikerut Bahrudin mengatakan, ini memang inovasi dan terobosan baru bagi jenjang SD. Ini dilakukan karena memang dalam sistem pendidikan nasional ada yang dinamakan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

“Untuk mengimplementasikannya, akhirnya kita buat rumusannya seperti syarat kelulusan sarjana. Yaitu siswa harus membuat karya tulis,” katanya kepada wartawan, Kamis (19/5).

Bahrudin menjelaskan, setiap siswa harus membuat karya tulis yang sesuai dengan passion nya dan kompetensinya.

“Siswa mau nulis tentang marketing silakan. Mau bikin tentang kuliner seperti cara bikin otak-otak ya silakan. Yang penting siswa ada kemauan. Dan Alhamdulillah responnya antusias,” jelas Bahrudin.

Menurut Bahrudin, dengan cara seperti itu, insya Allah sekolah setidaknya sudah bisa merealisasikan apa yang dinginkan siswa ke depannya nanti.

“Kita cuma memfasilitasi. Dan ini cuma menjadi salah satu penilaian kelulusan saja,” ujar Bahrudin lagi.

Terkait soal adanya guru penguji dan guru pembimbing itu juga. Setiap guru pembimbing, akan membimbing beberapa siswa. Begitu pun dengan guru penguji. Setiap siswa yang diuji, ada dua guru yang menguji.

“Untuk istilahnya, kita menggunakan istilah Uji Karya. Dalam Uji Karya itu tetap ada yang namanya presentasi siswa. Siswa presentasi, guru penguji menanyakan hasil karyanya,” imbuhnya.

Ditanya apakah ini baru yang pertama kali dilakukan di tingkat SD di wilayah Banten, Bahrudin mengklaim, jika ini bukan cuma pertama di Banten, tapi juga di Indonesia.

“Ini yang pertama kali di Indonesia. Karena memang sampai saat ini belum ada program seperti ini di jenjang SD di Indonesia. Alhamdulillah. Program ini didukung oleh Dindik Cilegon,” tandasnya. (mam)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular