Save Komodo, Viral Foto Komodo Berhadapan Truk di Taman Nasional

Tagar #SaveKomodo menggema di Twitter dan menduduki Trending Twitter Indonesia pada Senin (26/10/2020). Foto menunjukkan komodo berhadapan dengan truk yang mengangkut besi rangka bangunan di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur viral di media sosial.

Foto ini mengundang kekhawatiran, pembangunan ini bakal mengganggu kelangsungan hidup dan habitat hewan purba itu. Untuk diketahui, kawasan Labuan Bajo, yang sebagian wilayahnya meliputi TN Komodo ditetapkan sebagai salah satu destinasi Wisata Super Prioritas seperti ditetapkan dalam surat Sekretariat Kabinet Nomor B652/Seskab/Maritim/2015 tentang arahan Presiden Republik Indonesia mengenai pariwisata.

“Thn 2019 warga desa Komodo berjuang menentang rencana pemerintah memindahkan mereka dr P Komodo sbg bagian dr proyek Wisata Premium. Mereka kuat, pemerintah mundur. Tp 151,9 ha bekas kebun mereka (sblm 1980) di L Liang TETAP diserahkan ke PT KWE dan Komodo tetap jd zona ekslusif,” cuit akun @KawanBaikKomodo, Minggu (25/10/2020). 

Warganet pun banyak yang mencuitkan ulang posting instagram terkait keprihatinan pembangunan di pulau Komodo ini. Tak cuma ramai di media sosial, warganet juga mencoba menarik dukungan dengan menggalang petisi di Change.org. Petisi yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo ini menolak pembukaan lahan di Taman Nasional Komodo. Hingga tulisan dibuat, petisi yang dibuat oleh Indo Flashlight itu sudah ditandatangani lebih dari 340 ribu orang.

“Kami Masyarakat Indonesia meminta kembalikan lahan ini, kami mohon perintahkan kepada Pemda untuk pemutusan izin INVESTOR ASING (Swasta) di kawsan Taman Nasional Pulau Komodo,” seperti dikutip dari laman petisi  tersebut.

Taman Jurasic Park Indonesia

Selain tagar #SaveKomodo keprihatinan soal pembangunan di Pulau Komodo ini juga ikut mengangkat perbincangan soal Jurassic Park. Pasalnya, pembangunan di Pulau Komodo itu disebut akan dijadikan Taman Jurassic di Indonesia.

Proyek pembangunan ini di pulau konservasi itu juga mendapat kritik Walhi. Koordinator Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Edo Rakhman mengkritik langkah itu sebagai konsep yang keliru karena pemerintah seharusnya mempertahankan habitat asli hewan endemik komodo di kawasan tersebut.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekowisata (KSDAE) KLHK, Wiratno, mengatakan, di wilayah tersebut saat ini dilakukan pembangunan sarana prasana penunjang pariwisata.

“Terkait dengan foto yang tersebar di media sosial tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan aktivitas pengangkutan material pembangunan yang menggunakan alat berat dilakukan karena tidak dimungkinkan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan alat-alat berat seperti truk, ekskavator dan lain-lain, telah dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,” kata Wiratno kepada CNN Indonesia, Minggu (25/10/2020).

Pulau Rinca tempat para komodo ini tinggal memiliki luas 20.000 hektare, sementara luas Lembah Loh Buaya adalah 500 hektare atau 2,5 persen dari luas Pulau Rinca. Estimasi populasi komodo di Pulai Rinca pada 2019 diperkirakan sebanyak 1.300 ekor, sementara populasi komodi di Lembah Loh Buaya sekitar 66 ekor.

Wiratno menyebut populasi komodo di Lembah Loh Buaya selama 17 tahun terakhir relatif stabil, dengan kecenderungan sedikit peningkatan di 5 tahun terakhir. Menurutnya, jumlah komodo yang sering berkeliaran di sekitar area pembangunan sarana dan prasarana di Loh Buaya diperkirakan kurang dari 15 ekor, dan komodo tersebut setiap pagi memiliki perilaku berjemur.

“Aktivitas pembangunan pariwisata selama ini sedikit mempengaruhi perilaku komodo, antara lain komodo lebih berani dan menghindari manusia, tetapi tidak mempengaruhi tingkat survivalnya/tingkat kebertahanan hidup (ardiantiono et al 2018). Hal ini dapat dibuktikan dengan tren populasi yang tetap stabil di lokasi wisata Loh Buaya tersebut,” ujar Wiratno.

“Artinya, apabila dikontrol dengan baik dan meminimalisasi kontak satwa, maka aktivitas wisata pada kondisi saat ini dinilai tidak membahayakan populasi komodo area wisata tersebut,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wiratno menyatakan pengunjung di Pulau Rinca selama masa pandemi Covid-19 ini berkisar 150 orang tiap bulan atau sekitar 10-15 orang per hari. Untuk mencegah dampak negatif dari pembangunan sarana dan prasarana di kawasan tersebut, kata Wiratno, dilaksanakan protokol pengawasan terhadap satwa komodo yang dilakukan oleh 5-10 ranger atau polisi hutan di Taman Nasional Komodo.

“Setiap dilakukan aktivitas pembangunan, ranger TN Komodo yang bertugas di Lembah Loh Buaya akan melakukan pemeriksaan keberadaan komodo, termasuk di kolong-kolong bangunan, bekas bangunan, dan di kolong truk pengangkut material,” tuturnya.

Tahap pembangunan di Pulau Rinca disebut telah mencapai 30 persen dari target. Dalam surat dari Kepala Balai TN Komodo yang disampaikan Wiratno, disebutkan bahwa akan dilakukan penutupan di resor Loh Buaya mulai 26 Oktober 2020 hingga 30 Juni 2021.

 Wiratno pun membenarkan jika penutupan Loh Buaya terkait dengan pembangunan sarana dan prasaran di kawasan tersebut. Menurutnya, pembangunan di kawasan itu harus dilakukan secara hati-hati karena menjadi habibat belasan komodo dewasa.

“Benar (penutupan Loh Buaya terkait pembangunan), pengunjungnya juga hanya sekitar 150 orang per bulan. Dipindahksn di Loh Liang di TN Komodo. Jadi di lokasi pembangunan sarpras tersebut ada 15 ekor komodo dewasa, memang harus hati-hati,” pungkasnya. 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo tetap memperhatikan habitat komodo. Baik penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, maupun perbaikan hunian penduduk. “Pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu melalui sebuah rencana induk pengembangan infrastruktur yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi,” ucap Basuki dalam keterangan tertulis, Senin (26/10/2020). [sultantv]

(Visited 12 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.