TANGERANG – Tim Jelajah Pesisir Banten hari ke-4 sudah sampai ke daerah Tanjung Kait, para anggota tim menyempatkan untuk bermalam di Vihara Tjo Soe Kong, Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.
Vihara ini bisa menjadi tempat wisata yang kamu bisa kunjungi, lantaran nilai sejarah dan panoramanya bisa dinikmati semua kalangan. Terdapat sebuah kolam yang dilintasi sebuah jembatan merah yang bisa digunakan untuk berswafoto
Disini kamu juga akan dimanjakan dengan ikan-ikan hias yang mudah dijumpai di tepi kolam. “Bahkan bukan hanya yang beribadah, yang sekedar berwisata pun banyak yang datang. Karena lokasinya tepat ditepi pantai,” ujar pengurus tempat ini.
Selain itu terdapat bangunan khusus bagi para tamu yang ingin bermalam tanpa berbayar dengan ruang yang sangat bersih dilengkapi AC, toilet dan kamar mandi yang nyaman.
Bangunan panjang dua lantai dengan puluhan ruang ini berada di sisi kanan wihara dengan ruang parkir dan taman yang luas. Di sini tim jelajah pesisir diterima dengan baik oleh pengurus Vihara
Vihara ini merupakan kelenteng tertua di Provinsi Banten, bersama dengan dua kelenteng lain, yakni Boen Tek Bio di Kota Tangerang dan Avalokitesvara di Banten Lama, Serang.
Kompleks beribadah penganut Khonghucu ini terdiri dari empat bangunan. Bangunan induk terdiri dari empat ruang, yaitu ruang depan, tengah, belakang, dan vihara bagi penganut Buddha.

Bangunan di sayap kiri dilengkapi altar untuk Dewa Bumi, diapit altar untuk Embah Rachman dan Empe Dato. Sementara pada seberang bangunan induk, di sisi kanan, beberapa puluh meter dari sana tampak bangunan beraltar untuk Dewi Neng.
Di bagian paling belakang bangunan induk adalah vihara Buddha dengan enam tiang utama berwarna merah. Kelenteng ini merupakan bangunan bersejarah yang menggambarkan perjuangan warga etnis Tionghoa di Tangerang.
Kelenteng ini dibangun sekitar abad ke-17 oleh para imigran asal Kabupaten Anxi, Hokian, Tiongkok Selatan. Bahkan, seorang pelaut Barat, Andries Teisseire menulis, kelenteng ini sudah ada pada tahun 1792.
Selain pemandangan yang ciamik, di bangunan ini banyak terdapat benda bersejarah, diantaranya sepasang patung batu singa yang berdiri di depan bangunan utama kelenteng, disumbang oleh Zhang De Hai (1832-1833), sementara tempat pembakaran kertas doa dan pengharapan (lian) di kanan bangunan utama dibangun 1873.
Lian itu adalah sumbangan Huang Qingsong dari Tingzijiao (Pasar Gelap Batavia), sementara Lian yang berdiri di sebelah kiri disumbang Zheng Cheng An pada 1868.
Ikuti perkembangan Jelajah Pesisir Banten 2022 di Sultan TV. []





