CILEGON – Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Cabang Kota Cilegon menggelar rapat kerja pertamanya yang dilaksanakan di aula Gedung Sekretariat DPRD Kota Cilegon.
Cilegon sebagai kota industri, baja, dolar dan tentu saja urban, tidak lagi menjadi kota yang homogen melainkan heterogen.
Di tengah arus moderenisasi, globalisasi, dan heterogenitas, Cilegon yang juga dikenal sebagai kota santri, tentu tak ingin tergerus oleh arus urbanisasi dengan maraknya berbagai paham keagamaan selain Ahlusunah waljamaah (Aswaja).
Oleh sebab itu, Ketua PCNU Kota Cilegon Hifdzullah meminta kepada Pergunu agar terus memperkenalkan paham Aswaja kepada umat muslim yang ada di Cilegon.
“Khususnya kepada para peserta didik di masing-masing lembaga pendidikan. Karena Pergunu ini kan organisasinya para guru NU. Jadi sudah semestinya bertanggung jawab juga atas keberlangsungan paham Aswaja di Cilegon melalui dunia pendidikan”, katanya kepada wartawan, Kamis (30/12).
Tidak hanya itu, Hifdzullah juga meminta, agar Pergunu memberikan pemahaman tentang Aswaja yang moderat kepada para rekan guru pengajar di civitas akademika masing-masing.
“Cilegon sudah dikenal warganya yang takdzim kepada gurunya, baik kiai maupun ustadz (ulama). Jadi hal ini harus terus dijaga”, ujarnya.
Sementara, Ketua Pergunu Cilegon Suroji menyatakan, jumlah guru NU yang terdata ada sekitar 560 orang.
“Jumlah ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan. Yaitu di RA (Raudlatul Athfal), MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs, MA sederajat, Madrasah Diniyah, dan di berbagai pondok pesantren”, terang Suroj.
Suroj menuturkan, berdasarkan raker yang sudah dilakukan, ada tiga program besar yang akan direalisasikan. Yaitu membentuk dan mendirikan koperasi NU, mendirikan lembaga pendidikan NU, dan mendirikan perguruan tinggi NU.
“Insya Allah itu semua bisa terealisasi”, tandasnya. (mam)


