Peran Tionghoa dalam Sumpah Pemuda, Simak Ini!

Tidak banyak yang tahu, Sumpah Pemuda tidak terlepas dari peran etnis Tionghoa. Padahal seperti yang dipaparkan budayawan Udaya Halim dalam webinar bertajuk “Sumpah Pemuda, Tionghoa Ikut?” yang digelar Senin (19/10/2020) pukul 19.00 WIB, peristiwa Sumpah Pemuda tidak terlepas dari peran Yo Kim Tjan atau Johan Kertayasa. Pada 1927 ia merekam lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman. Lagu tersebut kemudian dikumandangkan untuk pertama kalinya saat Deklarasi Sumpah Pemuda pada 8 Oktober 1928.

Selain itu, pada 10 November 1928 koran Sin Po menjadi media pertama yang mempublikasikan syair lagu Indonesia Raya. Selain itu ada enam warga keturunan Tionghoa lain yang turut memiliki andil dalam peristiwa Sumpah Pemuda yaitu Kwee Thiam Hong, Oey Kaysiang, Liauw Tjon Hok, Tjio Djien Kwie, Djohan Mohhamad Tjai, dan Sie Kong Lian.

Fakta penting lainnya, pada 28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda dilahirkan di rumah milik Sie Kong Lian yang berlokasi di Kramat Jaya 106, Jakarta Pusat. “Kebangsaan itu bukan karena kulit, mata, atau karena agama dan suku. Tapi apa yang kita rasakan jadi orang Indonesia. Saya guru dan saya tanamkan pada anak-anak kecil adalah banggalah jadi bangsa Indonesia. Kalau kita bangga jadi anak Indonesia, maka kita nggak mau mencemarkan kebanggaan itu. Bagaimana bangsa kita yang seharusnya melangkah lebih jauh tapi kita masih berputar-putar mencari, bukan mencari titik temu tapi mencari perbedaan. Kita harus merayakan kebhinekaan kita. Kita colorfull. Rainbow is beautifull,” kata Uday Halim, Budayawan sebagai pembicara utama webinar.

Arkeolog Senior Dr Harry Truman Simanjutak juga turut hadir. Truman Simanjutak menyampaikan cermah utama bertema “Akar Kebangsaan Kita” dan menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang. Antara lain tentang, perkembangan peradaban manusia dari Homo Erectus hingga Homo Sapiens  ada empat hal penting yang mempengaruhi eksistensi dan perkembangan hidup manusia yaitu imigrasi, adaptasi, interaksi serta evolusi dan semua itulah yang membuat Indonesia menjadi negara multikultural seperti sekarang.            

Pada webinar ini juga jadi saksi serah terima hibah gedung Sumpah Pemuda dari pihak ahli waris kepada negara.

“Kami ingat pesan ayah kami bahwa kita bukan tidak butuh rumah tersebut. Tapi rumah tersebut punya sejarah besar buat bangsa Indonesia dan juga kenangan keluarga sendiri. Jadi bila saatnya kalian diminta untuk menghibahkan kepada negara ini, pesan ayah saya yang juga dipesankan oleh kakek saya. Maka kami memutuskan pada usia 75 tahun Republik Indonesia dan di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi yang begitu membanggakan dan peduli kepada rakyat, sebagai ungkapan terimakasih kami untuk menghibahkan rumah tersebut kepada negara,” papar Janti Silman, cucu Sie Kong Lian.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional Junus Satrio mengaku sangat gembira dan berterimakasih atas penghibahan gedung Sumpah Pemuda oleh keluarga Sie Kong Lian. Ia juga berharap, semangat kebhinekaan bisa terus hidup di Tanah Air. [sultantv]

(Visited 25 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.