Pada 48 Juta Tahun Lalu, Burung Hantu Berburu pada Siang Hari

Sekitar 48 juta tahun yang lalu, burung hantu berburu mencari mangsa pada siang hari. Berbeda dengan apa yang selama ini kita ketahui bahwa mereka berburu pada malam hari. Hal inilah yang kemudian membuat mereka dikategorikan sebagai hewan nokturnal.

Peneliti menyimpulkan hal tersebut berdasarkan temuan fosil burung hantu yang terawetkan dengan baik. Dari  fosil tersebut, mereka melihat bahwa tengkorak burung hantu yang sudah menjadi  fosil ini memiliki ciri khas seperti burung elang modern yang juga berburu di siang hari.

“Jelas saja temuan ini menjadi hal yang luar biasa. Terutama karena sangat jarang menemukan  fosil burung hantu yang relatif baik,” ucap Elizabeth Freedman Fowler, peneliti dari Dickinson State University di North Dakota seperti dikutip dari Kompas.com pada beberapa waktu lalu.

Paleontolog menemukan fosil burung hantu
Paleontolog menemukan fosil burung hantu

Karena fosil tersebut terawetkan dengan baik, peneliti dapat melihat bahwa bagian supraorbital, daerah di atas soket mata, memiliki tulang yang berlebih. Hal tersebut, membuat burung hantu memiliki topi bisbol mini di setiap matanya.

“Tulang yang berlebih ini memberi burung semacam naungan sehingga tidak silau. Fitur ini tidak ada pada burung nokturnal, tetapi ini umum dimiliki pada burung elang modern,” ucap Denver Fowler selaku kurator paleontologi di Museum Dinosaurus Badlands di North Dakota.

Teknik terbang handal yang dimiliki burung hantu tak lepas kaitannya dari tepi bagian depan sayapnya

Svoboda Pavel/Shutterstock.comTeknik terbang handal yang dimiliki burung hantu tak lepas kaitannya dari tepi bagian depan sayapnya

Secara evolusioner, peneliti tidak yakin apakah burung hantu tersebut memang merupakan moyang dari burung hantu nokturnal. Terdapat kemungkinan bahwa di dunia memang terdapat dua jenis burung hantu yaitu nokturnal dan diurnal.

Sampai sekarang pun memang masih dijumpai burung hantu yang aktif di siang hari. Di antaranya burung hantu hawk utara (Surnia ulula) dan burung hantu kerdil utara (Glaucidium gnoma).

Secara keseluruhan, peneliti memiliki sekitar 45 persen rangka burung hantu tersebut, termasuk tengkorak dan tulang kaki, sayap serta rahang bawah. Ini jauh lebih lengkap dibandingkan dengan temuan fosil burung hantu sebelumnya.

Fosil burung hantu ini ditemukan pertama kali oleh John Alexander, seorang peneliti di Burke Museum of Natural History and Culture di University of Washington. Ia terkejut ketika menjumpai  fosil yang ia gali ternyata merupakan burung pemangsa.

Penemuan tersebut akan dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Society of Vertebrate Paleontology yang ke 78 pada 19 Oktober lalu.[]

(Visited 174 times, 2 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.