Merayakan Asal dan Tradisi Tahun Baru

Perayaan Tahun Baru berawal dari sejarah panjang sejak zaman Babilonia dan Romawi Kuno.  Bermula dari bangsa Babilonia di zaman Mesopotamia sekitar 4.000 tahun sebelum masehi.

Momentum awal tahun diadakan saat musim bunga ekuinoks atau akhir Maret ketika waktu siang dan malam sama durasinya. Pesta itu dinamai Akitu dan bangsa Babilonia merayakannya selama 11 hari.

Selama perayaan Akitu, patung dewa-dewi mereka diarak keliling kota dan dimaknai sebagai bentuk pembersihan diri untuk memulai masa yang baru. Akitu juga penamaan atas peringatan Dewa Marduk yang mengalahkan Tiamat, dewa laut yang jahat. Momen kemenangan Dewa Marduk sekaligus diklaim secara simbolis sebagai legitimasi diperpanjangnya masa kepemimpinan raja Babilonia saat itu.

Beralih ke zaman Romawi Kuno, sekitar 46 tahun sebelum Masehi. Acuan bangsa Romawi Kuno saat itu sama seperti bangsa Babilonia, yakni saat musim bunga ekuinoks. Saat itu, penanggalan yang dipakai bukanlah 12 bulan, melainkan 10 bulan atau 304 hari. Penanggalan tersebut dibuat oleh Romulus, pendiri Roma pada abad ke-8 SM.

Perubahan dan sejarah besar kemudian dilakukan Julius Caesar yang mengubah penanggalan yang bermula dari 1 Januari. Penentuan ini dinamakan kalender atau Penanggalan julian yang didasari oleh penanggalan solar matahari dan kemudian diperbarui menjadi penanggalan Gregorian. Dari sinilah penanggalan Masehi bermula.

Januari

Penamaan bulan Januari sebagai awal tahun dipersembahkan oleh Julius Caesar kepada Dewa Janus. Bukti sejarah mencatat bahwa Dewa Janus memiliki kepala dengan dua wajah di depan dan di belakang.

Bukan tanpa makna, Dewa Jeanus dikenal sebagai dewa pengasih dan pelindung semua usaha manusia di bumi. Terlebih, ia menjadi lambang peralihan dari tahun yang lalu ke tahun yang akan datang karena bentuk kepalanya dan perannya seabagi penjaga pintu gerbang kuil para dewa.

Beberapa tradisi perayaan Tahun Baru dilakukan dengan berdoa atau berziarah ke makam orang yang sudah meninggal.

Sebagian besar warga Romawi Kuno merayakan tahun baru dengan bekerja tepat menjelang bergantinya tahun. Tradisi ini berdasarkan puisi yang dituliskan oleh penyair Roma, Publius Ovidius Naso sekaligus menyiratkan bahwa tradisi ini dijalankan untuk menghindari nasib buruk dan tidak terulang di tahun berikutnya. Sebagian warga lainnya, menghiasi rumah, membagikan hadiah dengan kerabat, dan mempersembahkan koin emas ke patung Dewa Janus.

Pemakaian penanggalan tahun baru yang berawal setiap 1 Januari ini mendapatkan pengukuhannya beratus tahun kemudian. Tepatnya pada 24 Februari 1582, saat Paus Gregorius XIII secara resmi menggunakan penanggalan tersebut dan semakin melengkapi sistem penanggalan Gregorian. Sistem penanggalan ini berjalan siklus setiap 400 tahun dan memerlukan 365,2425 hari per tahunnya.

Beragam tradisi

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, perayaan memasuki tahun yang baru diisi dengan acara berkumpul bersama keluarga dan kerabat, berdoa bersama, makan-makan, atau berkumpul di pusat-pusat keramaian.

Bakar jagung dan ayam, pesta kembang api, dan keramaian di area publik menjadi pemandangan yang tak asing saat malam Tahun Baru. Nyatanya, hal rutin yang dilakukan setiap malam Tahun Baru itu juga terjadi di berbagai belahan dunia.

Sebagian masyarakat Benua Biru, seperti di Inggris, Skotlandia, Perancis, Belanda, dan Jerman merayakannya dengan berenang di air es. Menjelang bergantinya tahun, pantai, danau, dan teluk di negara tersebut dipadati banyak orang.

Mereka ingin menjalankan tradisi ini meskipun suhu air saat musim dingin bisa mencapai 5 derajat celsius. Bahkan, di Quensferry Selatan, Skotlandia, diadakan festival The Loony Dook dan dapat diikuti dengan membayar tiket seharga 12 dollar AS.

Perayaan Tahun Baru lainnya yang tidak mungkin dilewatkan ialah tradisi makan-makan. Di beberapa negara, tradisi makan memiliki kekhasan tersendiri. Di Spanyol, memakan 12 butir anggur saat malam Tahun Baru dianggap akan membawa keberuntungan di tahun berikutnya.

Sementara di Estonia, setiap orang harus makan tujuh, sembilan, atau 12 jenis makanan tradisional yang diyakini dapat menambah kekuatan di tahun selanjutnya.

Pesta makan kenyang lainnya dapat ditemukan di Jerman setiap malam pergantian tahun. Biasanya, ada tradisi jenaka dengan menyajikan donat (Pfannkuchens) berisi selai tradisional dan mustar secara acak, kemudian yang mendapatkan donat isi mustar akan dianggap sial di tahun depan.

Mendoakan

Rupanya, pergantian tahun tidak selalu harus dilakukan dengan pesta dan perayaan yang besar. Beberapa tradisi juga menjalankannya dengan berdoa atau berziarah ke makam orang yang sudah meninggal.

Di Jepang, menjelang malam pergantian tahun, suara lonceng dari kuil bergema hingga ke jalan-jalan  sunyi. Lonceng kuil tersebut dibunyikan selama 108 kali (lambang pengingkaran 108 hasrat negatif manusia) dan pihak kuil mempersilakan orang-orang untuk bergantian membunyikannya.

Berdoa kepada orang yang sudah meninggal juga dilakukan di Chile dan Meksiko. Dalam budaya Amerika Latin, perayaan bagi orang-orang yang sudah meninggal memang mendapatkan tempat khusus di hati masyarakat. Berkunjung ke makam keluarga, kerabat, atau orang yang dikasihi menjadi cara warga Talca, Chile, untuk melewatkan pergantian tahun dengan diiringi musik dan pesta.

Warga Meksiko pun turut menjalankan perayaan ini. Kisah tentang tradisi ini tertuang dalam buku Dia de Los Muertos Pasion por la Vida karangan Mary Andrade.

Mereka biasanya berdoa di rumah dengan altar yang di atasnya ada patung kuda kecil (huatzari), membawanya ke makam dan dihiasi, kemudian menginap semalaman di sana. Seperti yang digambarkan dalam film kartun Coco (2017), ikatan emosional antara keluarga yang masih hidup dan meninggal sungguhlah dijaga erat.[]

Sumber: bebas.kompas.id

(Visited 2 times, 1 visits today)

About The Author

Baca Juga

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.