Mengunyah ‘Permen’ Buah Pinang, Tradisi Kebanggaan Tanah Papua

Indonesia terkenal akan budayanya yang beragam. Jika berbicara soal budaya, tidak pernah lepas kaitannya dengan tradisi yang diwariskan turun menurun. Salah satunya mengunyah Papua’s Candy alias “orang Papua punya permen” yang terdiri atas pinang, sirih, dan kapur.

Jika berbicara tentang mengunyah pinang, kegiatan ini sangat identik dengan kehidupan orang tua zaman dulu. Namun, belakangan ini pinang menjadi populer di kalangan anak muda di Papua. Bahkan menarik perhatian wisatawan untuk mencicipinya.

Beragam pinang yang dijual di Pasar Boswesen, Sorong, Papua Barat beragam. Dari harga dua ribu rupiah hingga puluhan ribu rupiah.

Tradisi mengunyah pinang ini sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Tidak hanya berfungsi sebagai pencuci mulut, buah pinang memiliki banyak manfaat seperti menambah stamina, menguangatkan gigi dan bagus untuk rahim perempuan.

Bagi masyarakat Papua, permen ini memiliki sensasinya tersendiri–terdapat kombinasi manis keasaman dan rasa seperti pasta gigi. Menurut masyarakat setempat tidak ada makanan atau bumbu lain yang menandingi kenikmatan buah pinang. Mereka meganggap bahwa buah pinang layaknya candu, jika tidak mengunyahnya, maka seperti ada yang hilang dalam hidup.

Tidak hanya di Papua, menginang juga banyak dilakukan banyak daerah di Nusantara. Namun, setiap daerah memiliki khas dan keunikannya masing-masing. Di Pulau Jawa, Sumatra, dan daerah lainnya, biasanya pinang yang dikunyah adalah yang sudah dikeringkan. Berbeda dengan di Papua yang mengunyah pinang mentah.

Perlu diingat, jika mencicipi buah pinang, jangan membuang kulitnya yang sudah dikupas, melainkan harus dimakan secara bersamaan. Dengan mengunyahnya bersama kulit, rasa pinang pun menjadi tidak terlalu pahit.

Saat mengunyah pinang, biasanya masyarakat Papua akan membuang ludah hasil kunyahanya hingga tiga kali. Jika ludah pertama ditelan, akan mambuat pusing dan muntah. Setelah melakukan tiga kali pengunyahan, barulah daging pinang dicocol ke sirih dan kapur, lalu dikunyah kembali.

Mengunyah pinang adalah bentuk quality time orang Papua. Selain bermanfaat sebagai makanan penutup, pinang juga berfungsi sebagai pencair komunikasi.[]

(Visited 64 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.