26 C
Serang
Monday, January 25, 2021

Literasi Mempercepat Skill Sumber Daya Manusia di Perkampungan

Literasi dan pendidikan bisa menjadi solusi guna meningkatkan dan mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia di perkampungan. Meskipun gerakan sadar literasi ini bukan hal mudah dilakukan di era digital namun sangat penting untuk diterapkan.

Kondisi literasi di perkampungan saat ini, dijelaskan Faiz Ahmad Romzi, Ketua Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW HIMMA (Himpunan Mahasiswa Mathlaul Anwar) Banten, ada banyak hal yang harus disoroti, baik secara aksebilitas dan kecakapan. Aksebilitas mencakup keberadaan perpustakaan di desa dan komnunitas pegiat literasi. Sementara kecakapan mencakup kegiatan baca tulis dalam bentuk fisik dan digital.

“Kesadaran literasi ini penting untuk pembangunan sumber daya manusia di perkampungan. Saya  mendukung nawacita Pak Jokowi yang membangun pendidikan dari pinggiran, membangun SDM di pedesaan. Selama ini desa dikeruk baik dalam hal ekonomi, transaksi, juga sumber daya alam. Dalam hal politik mereka tidak bisa dikonversikan sebagai pengaruh kebijakan, hanya untuk pengumpulan massa yang suaranya dibutuhkan pada hajatan pemilu lima tahunan,” tutur Faiz seusai menjadi pembicara pada program Bincang Hari Ini di Sultan TV, Selasa (24/11/2020) membahas tema Mathlaul Anwar dan Literasu di Perkampungan.

Meski begitu, kendala membudayakan literasi di perkampungan saat ini beragam. Baik dari sisi support pemerintah desa maupun keterlibatan masyarakat. Selama ini pemerintah desa belum sepenuhnya menerapkan UU No 6 tentang kewajiban desa menyediakan perpustakaan desa. Justru cenderung acuh.

“Dalam hal ini, perlu koordinasi antara pihak swasta dengan pemerintah,” imbuh Faiz.

Mengenai minat baca di Banten, Faiz menjelaskan harus dilihat dari dua hal. Secara narasi inferor, ia mengakui minat baca di Banten rendah. Ini dilihat data peminjaman buku di perpustakaan daerah yang bisa dijadikan indikator.

“Sementara secara superior kita tidak kalah hebat. Kita mengenal Syekh Nawawi Albnantani yang menulis 115 kitab. Beliau menghabiskan waktu di Makkah, namun karyanya membumi di negeri kita. Secara internal (Mathlaul Anwar-red) kita punya Kiyai Mas Abduraahman yang menulis sekitar 7-8 kitab,” papar Faiz.

Jika melihat sudut pandang secara inferior, Faiz mengakui ini bisa menjadikan skeptis dan pesimis. Namun jika melihat secara superior, ini bisa menjadi motivasi untuk meniru yang dilakukan para pendahulu.

Mengenai gerakan literasi kampung, Faiz di luar organisasi melakukan pembangun Taman Baca Ruang Daya Kreasi di Kalupang, Labuan, Pandeglang. Gerakan ini sebagai akselerasi percepatan pembangunan masyarakat berbasis literasi.

“Di desa-desa terutama di Banten, pembangunan tertuju pada infrastruktur. Tidak bisa dinafikan ini hal yang dibutuhkan. Namun pembangunan manusia lewat perpusatakaan dan komunitaas taman baca juga penting. Jadi pembangunan infrastruktur harus dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusia,” tutur Faiz.  

Pada masa sekarang ini, diakui Faiz, ada semacam disparitas manusia zaman now dan zaman old. Beraganm platform digital yang bisa diakses dengan mudah merupakan tantangan manusia zaman sekarang untuk mengakrabi dunia litrerasi.

“Ini menjadi tantangan Mathlaul Anwat sebagai ormas dan lembaga ppendidikan untuk tetap melestarikan kecakapan baca tulis. Sepanjang bumi berputar, kami berkhidmat Mathlaul Anwat hadir di perkampungan melakukan kontinyuitas berkontribusi di dunia pendidikan, dakwah, dan sosial. Harapannya masyarakat bisa tercerdaskan,” imbuhnya. (sultantv-01)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

12,731FansSuka
6,619PengikutMengikuti
23,150PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Artikel Terbaru