Keluarga Bisa Menjadi Dasar Pemahaman Toleransi yang Kuat

Penetapan hari toleransi internasional setiap 16 November oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa merupakan usaha untuk mempersatukan dunia melalui saling pengertian dan rasa hormat. Sejak ditetapkan pada 1996, PBB berkomitmen memperkuat toleransi dengan memupuk saling pengertian di antara budaya dan masyarakat. Keharusan ini terletak pada inti piagam Perserikatan Bangsa-bangsa serta deklarasi universal hak asasi manusia.

Saat ini perkembangan teknologi digital dengan beragamnya media sosial, menjadi perangkat yang memudahkan beredarnya isu hoax yang merusak toleransi. Upaya menjaga toleransi di tengah isu hoax yang gampang memprovokasi massa dari media sosial, menurut FX Frandy Seda, Ketua Pemuda Katolik sekaligus penggerak Gusdurian, bisa dimulai dari keluarga.

“Keluarga menjadi kunci paling utama untuk menangkal hal-hal yang merusak toleransi. Di era digital ini peran keluarga sangat penting. Misal kalau ada yang melakukan kesalahan di media sosial, yang dicari adalah keluarganya. Dari keluarga, anak-anak bisa dikontrol dalam memahaami isu-isu yang muncul di media sosial yang bisa merusak toleransi,” jelas FX Frandy Seda setelah menjadi pembicara pada program Bincang Hari Ini, Senin (16/11/2020).

Selain keluarga, pendidikan formal juga dinilai sangat penting. Porsinya 50 persen. Selain itu peran serta tokoh masyarakat dalam menjaga toleransi pun menurut Frandy sangat berpengaruh.  

Untuk mencegah hal-hal yang bersifat intoleransi, kata Frandy, cukup banyak. Dimulai dari diri sendiri untuk membuka diri menerima perbedaan.

“Dan menerima orang di luar kita dari agama, suku, warna kulit, dan bahasa. Pentingnya menerima perbedaan ini bukan karena melihat bagian dari orang lain tapi melihat pada diri kita,” imbuh Frandy.

Untuk menghindari hal-hal yang bisa merusak toleransi, Rosadi Pribadi, Ketua Forum Pemuda Lintas Agama Banten mengatakan, harus saling memahami antar-umat beragama, harus saling menghormati, dan harus saling menghargai orang lain.

“Sekarang ini tidak hanya umat beragama, dalam satu umat beragama pun tidak saling menghormati. Satu agama saja sering ribut. Untuk memelihara kebersamaan dan keberagaman harus satu pemahaman dulu, bahwa kita sesama manusia,” tutur Rosadi, yang juga menjadi pembicara pada program Bincang Hari Ini, Senin (16/11/2020).

Pada hari toleransi internasional ini, Rosadi berharap, masyarakat bisa saling berdamai, saling menghargai sesama manusia.

“Tidak ada ada manusia bunuh manusia lain, tidak ada saling jegal dan saling sikut. Kita memanusiakan manusia. Jangan salah memahami agama,” tukas Rosadi. (sultantv-01)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.