IPSI Kaget UNESCO Akui Silat dari Malaysia Selain Indonesia

Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) melalui anggota Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres), Sunarno, kaget UNESCO mengakui Malaysia selain Indonesia sebagai negara asal pencak silat.

Sebelumnya, UNESCO menetapkan pencak silat sebagai warisan budaya dunia kategori tak benda dari Indonesia dan Malaysia. Keputusan itu ditetapkan pada sidang ke-14 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (IHC) di Bogota, Kolombia yang berlangsung 9-14 Desember.

“Sebenarnya proses pengajuan ke UNESCO memakan waktu yang sangat panjang sejak era pak Edy Nalapraya [pendiri IPSI], kemudian dilanjutkan pak Roy Suryo ketika dia masih menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga. Kemudian baru sekarang ditetapkan [sebagai warisan budaya dunia]. Dari sini pencak silat diajukan ke UNESCO,” kata Sunarno kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/12).

Sunarno pun menilai proses tersebut yang sangat lama juga terkait Malaysia yang dalam perjalanannya ikut mengajukan pencak silat ke UNESCO setelah Indonesia.

“Tapi saat itu Malaysia statusnya sebagai negara yang mengajukan. Sementara Indonesia yang lebih dulu mendaftarkan berstatus sebagai negara asal. Tapi ternyata statusnya di UNESCO sama-sama sebagai negara asal pencak silat. Saya juga kurang paham.”

“Mungkin memang ada pertimbangan tertentu dari UNESCO. Mungkin juga tidak ingin ada ribut-ribut lagi. Yang jelas, kami sangat senang dan berterima kasih kepada UNESCO, silat sudah diakui sebagai warisan budaya dunia,” terang Sunarno.

Dia juga amat mengapresiasi pemerintah saat ini mampu mewujudkan perjuangan panjang sehingga pencak silat ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Perbedaan Pencak Silat Indonesia dan Malaysia

Selanjutnya, Sunarno mengatakan perbedaan mendasar pencak silat Malaysia dan Indonesia. Salah satunya adalah soal aliran dan jurus silat.

“Di Malaysia jurusnya dan alirannya nyaris seragam dan didominasi unsur melayu seperti silat harimau yang juga ada di Sumatera. Di Indonesia benar-benar beraneka ragam sesuai dengan keragaman budaya dari masing-masing daerah dan suku,” ujar Sunarno.[]

(Visited 10 times, 1 visits today)

Artikel Terkait

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.