Ibu Sehat, Negara Kuat yang menjadi tema Nusantara Berkisah episode 4 ini menghadirkan KH Muqti Ali Qusyairi (Ketua LBM PW NU DKI) dan Sari Ramdani (Ketua Mitra Seni Indonesia). Talkshow yang digelar Minggu (20/12/2020) pukul 19.00 WIB live di Youtube Sultan TV dan Makara Art Center ini dipandu Trie Utami dan Al-Zastrouw.
Sari Ramdani, Ketua Mitra Seni Indonesia pada kali ini menjelaskan tentang Mitra Seni Indonesia yang merupakan perkumpulan bersifat nirlaba dan nonpolitik. Lahir pada 2007 dari kepedulian ibu-ibu Yayasan Seni Rupa Indonesia. Karena berbentuk yayasan, ibu-ibu pengurus merasa perlu membuat sebuah wadah yang dinamai Mitra Seni Indonesia. Pada saat itu memiliki 30 anggota. Dan saat ini beranggotakan 859 ibu-ibu yang tinggal di Jakarta.
“Saat ini belum buka cabang di tempat lain. Sekarang ini kita punya 29 grup pelatihan seni dari 11 jenis kesenian. Visinya, menjadi bagian masyarakat indonesia yang kreatif berkesenian dan berbudaya sesuai khazanah Indonesia,” jelas Sari.
Saat ini tidak hanya mewadahi ibu-ibu anggota pada bidang seni dan budaya. Pada masa pandemi, ibu-ibu anggota membentuk MSI kuliner, semacam UMKM. Di sinilah mereka berkarya untuk menambah penghasilan secara ekonomi. Di sini juga sekaligus mengenalkan kerajinaan dari berbagai macam daerah.
“Misinya ingin meningkatkan keterampilan berkesenian Indonesia juga turut serta melestarikan seni dan budaya Indonesia. lndonesia sangat kaya seni dan budaya,” imbuh Sari.
Salah satu kegiatan rutin ibu-ibu MSI ini pagelaran amal melalui pertunjukan seni. Dana yang terhimpun kemudian disalurkan kepada pelaku seni dari daerah untuk meningkatkan prestasi maupun kemampuan pengetahuan di bidang seni. Pada 2016 misalnya, hasil menggalang dana digunakan untuk beasiswa lebih dari 30 pelukis dari Desa Jelekong di Jawa Barat mengikuti training di galeri Sunaryo, maestro pelukis Indonesia.
“Dari anak-anak muda yang dipilih untuk beasiswa selama tiga bulan inhouse pembelajaran, akhirnya beberapa dari mereka bisa meningkatkan kemampuan artistik maupun pengetahuan seni lukis. Beberapa tahun kemudian, Desa Jelekong mampu percaya diri tidak hanya dalam seni lukis tapi juga seni lain. Mereka punya panggung kesenian dan ditampilkan lewat Youtube, sehingga mampu meraih viewer dari luar negeri,” jelas Sari lagi.
Pada sesi lain, KH Muqti Ali Qusyairi, Ketua LBM PW NU DKI membahas antara lain perempuan yang menjadi madrasah pertama dan perempuan yang memiliki multi peran. Menurutnya, sedikitnya ada tiga pesoalan perempuan yang banyak dibahas. Yakni peran perempuan dalam keluarga, peran perempuan di ruang publik, dan soal tubuh perempuan.
“Peran di keluarga, sudah paasti perempuan itu mengkover atau melakukan hal-hal yang terkait dengan domestik, khususnya mengurus anak dan pendidikannya, sejak kecil. Ada peran yang bersifat kodrati yang tidak bisa diwakilkan suami, di antaranya menyusui. Ini soal sentuhan emosi, perempuan itu kan memiliki bahasa kasih atau bahasa hati yang lebih dominan daripada laki-laki. Sementara anak kecil itu lebih butuh sentuhan kasih sayang melalui haati. Selain peran kodrati ini, perempuan bisa bertukar tempat dengan laki-laki, misal dalam mencari rezeki,” papar KH Muqti.
Peran perempuan di ruang publik lanjut KH Muqti, apa yang bisa dilakukan laki-laki, perempuan juga bisa. Ini dicontoh Siti Khadijah istri Nabi Muhammad, pebisnis wanita yang menjalankan usaha multinasional, mengirim barang sampai ke negeri Syam.
Menjawab pertanyaan Trie Utama sang moderator tentang perempuan adalah madrasah dan perempuan bisa jadi vaksin sehingga negara ini bisa kuat, KH Muqti menjelaskan, ibu adalah induk.
“Sangat relevan dengan konteks di masa pandemi, ada banyak suami yang di-PHK. Sebagian juga ada suami yang kerja dari rumah. Saat suami kerja di rumah, istri bukan lagi hanya mengurusi anaknya tapi suaminya juga. Dalam hal pendidikan, ibu bukan hanya transfer knowlegde tapi living values education,” jawab Kh Muqti.
Di saat bangsa Indonesia dan seluruh manusia sedunia sedang mengalami musibah kolektif yaitu pandemi Covid-19, ia mengajak bersatu padu melawan korona ini dengan ikhtiar semaksimal mungkin.
“Karena kita pernah berkali-kali melawan musuh yang nyata yaitu kolonailisme dan itu berhasil, kuncinya persatuan. Jika korona ini adalah satu gangguan bagi kita, maka kuncinya yakni kita bersatu dan ikhtiarnya adalah mematuhi protokol kesehatan,” tuturnya.
Di penghujung acara, Trie Utami menyebut, Indonesia butuh perempuan-perempuan cerdas yang menjaga serta mendidik anak-anaknya supaya bisa menjadi vaksin di saat pandemi. Sementara Zastrou menilai, perempuan memiliki peran penting dan strategis dalam menghadapi situasi krisis dan suasana yang membuat kesultan hidup.
“Perempuan bisa menjadi sumber inspirasi menghadapi semangat, menghadapi persoalan. Itu sudah dicontohkan perempuan hebat di nusantara dan dalam sejarah keislaman. Maka dengan begitu, akan terbutki ibu sehat negara kuat,” tutupnya.
Pada program yang terselenggara atas kerjasama Makara Art Center, Kulturina, Sultan TV, dan Aku.id ini dimeriahkan penampilan musisi Jodi Yudono dan saxophonist Michael Abel Firdausi serta Sanggar pertiwi dan sanggar Mitra Seni. (sultantv-01)





