More

    Geledah 3 Fakultas, KPK Temukan Bukti Baru Suap Unila

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bukti baru dalam kasus dugaan suap penerimaan mahasiswa baru di Universitas Negeri Lampung (Unila) tahun akademik 2022. Bukti kuat ini ditemukan KPK usai menggeledah beberapa fakultas di Unila.

    Tiga fakultas yang diperiksa adalah Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Penggeledahan dilakukan pada Selasa, 23 Agustus 2022.

    “Tim penyidik KPK (23/8) telah selesai melakukan penggeledahan di beberapa lokasi di Unila di antaranya kantor Fakultas Kedokteran, kantor Fakultas Hukum, dan kantor FKIP,” ujar Kepala Bagian Pemberitaan Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (24/8/2022).

    Ali mengatakan, barang bukti yang ditemukan di tiga fakultas itu yakni dokumen terkait penerimaan mahasiswa baru dan data elektronik.

    “Tim segera lakukan analisis dan menyitanya sebagai barang bukti untuk perkara dimaksud,” kata Ali.

    KPK menetapkan Rektor Universitas Negeri Lampung (Unila) Karomani sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru pada Unila tahun akademik 2022.

    Selain Karomani, KPK juga menjerat tiga tersangka lainnya, yakni Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi, Ketua Senat Unila Muhammad Basri, dan Andi Desfiandi selaku pihak wasta atau terduga penyuap.

    Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron menyebut Karomani memasang tarif hingga Rp350 juta bagi calon mahasiswa yang ingin lolos dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru Unila.

    “Terkait besaran nominal uang yang disepakati antara pihak KRM (Karomani) diduga jumlahnya bervariasi dengan kisaran minimal Rp100 juta sampai Rp350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan,” ujar Ghufron.

    Ghufron menjelaskan, Karomani yang menjabat sebagai rektor Unila periode 2020-2024, memiliki kewenangan melaksanakan Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) untuk tahun akademik 2022.

    Selama proses Simanila berjalan, Karomani diduga aktif terlibat dalam menentukan kelulusan para peserta Simanila. Dia memerintahkan Wakil Rektor I Bidang Akademik Heryandi, Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Budi Sutomo, dan Ketua Senat Muhammad Basri untuk menyeleksi secara personal terkait kesanggupan orang tua mahasiswa yang ingin dinyatakan lulus.

    Menururt Ghufron, setiap orang tua yang ingin anaknya dinyatakan lulus harus menyerahkan sejumlah uang selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan pihak universitas.

    “Karomani juga diduga memberikan peran dan tugas khusus untuk Heryandi, Muhammad Basri, dan Budi Sutomo untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan pihak orang tua peserta seleksi yang sebelumnya telah dinyatakan lulus berdasarkan penilaian yang sudah diatur Karomani,” kata Ghufron. []

    Artikel Terkait

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Stay Connected

    10,527FansSuka
    16,400PengikutMengikuti
    37,500PelangganBerlangganan
    - Advertisement -

    Artikel Terbaru