27.9 C
Serang
Saturday, September 18, 2021
spot_img

BI Banten : Perekonomian Banten Periode Mei 2021 Tumbuh Membaik

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja menyampaikan Laporan Perekonomian Provinsi Banten Periode Mei 2021 pada Taklimat Media yang digelar Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten di Hotel Novus Jiva Anyer, Kabupaten Serang, pada Selasa (22/6).

Dalam pemaparannya, Erwin mengatakan, kondisi perekonomian Banten pada triwulan I 2021 semakin tumbuh membaik, secara quarter to quarter, pertumbuhan perekonomian Banten tumbuh sebesar 0,78% dan secara year on year kontraksi semakin mengecil menjadi sebesar -0,39%. Secara sektoral, perbaikan kondisi ekonomi Provinsi Banten terutama didorong oleh peningkatan pada hampir seluruh sektor utama di Provinsi Banten. Beberapa sektor yang tumbuh meningkat pada triwulan I 2021 antara lain sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, sektor Pengadaan Air, sektor Informasi dan Komunikasi, sektor Konstruksi, serta sektor Real Estate.

“Dari sisi pengeluaran, perbaikan ekonomi Provinsi Banten pada triwulan ini terutama didorong oleh membaiknya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Di sisi lain, Konsumsi Rumah Tangga dan Net Ekspor Total secara triwulanan juga mengalami perbaikan, meskipun secara tahunan masih terkontraksi tipis sebesar -1,69% (yoy) dan -4,62% (yoy),” ungkap Erwin.

Secara keseluruhan, dikatakannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2021 untuk Provinsi Banten dan 8 (delapan) Kota/ Kabupaten mengalami penurunan sejalan dengan kebijakan refocussing anggaran dalam rangka penanggulangan dampak pandemi Covid-19. Secara akumulatif, pagu Pendapatan APBD Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota mengalami penurunan sebesar 7,7% dibandingkan tahun 2020. Sementara, pagu Belanja wilayah Banten meningkat sebesar 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sampai dengan triwulan I tahun 2021, realisasi Pendapatan APBD Pemerintahan Provinsi Banten dan delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten senilai Rp6,28 triliun atau mencapai 17,6% dari target 2021, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2020 yang juga mencapai 17,1%. Sementara itu, realisasi Belanja APBD senilai Rp3,79 triliun atau 9,1% dari total pagu Belanja, lebih rendah dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun 2020 sebesar 11,6%,” Erwin menambahkan.

Dari sisi perkembangan harga, Inflasi Provinsi Banten pada triwulan I 2021 tercatat sebesar 1,39% (yoy), lebih rendah dibandingkan historis inflasi 3 tahun terakhir maupun inflasi triwulan IV 2020 yang masing-masing sebesar 3,41% (yoy) dan 1,45% (yoy). Selain belum pulihnya konsumsi masyarakat, rendahnya inflasi Banten tersebut juga dipengaruhi oleh menurunnya tekanan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.

“Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi pada Tekanan inflasi Provinsi Banten pada triwulan II 2021 diperkirakan meningkat secara tahunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Percepatan pemulihan ekonomi didukung perluasan vaksinasi akan mendorong berlanjutnya tren peningkatan konsumsi dan mobilitas masyarakat serta menyebabkan peningkatan tekanan inflasi,” ungkap Erwin.

Untuk stabilitas keuangan di Provinsi Banten pada triwulan I 2021, dikatakan Erwin, tetap terjaga pada level risiko yang aman walaupun terdapat penurunan penyaluran kredit oleh perbankan. Beberapa indikator utama perbankan masih melanjutkan pertumbuhan yang positif antara lain ditunjukan oleh Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Aset perbankan tumbuh sebesar 5,09% (yoy), DPK tumbuh 7,47% (yoy), namun pertumbuhan kredit terkontraksi sebesar 2,40% (yoy). Dari sisi intermediasi perbankan, Loan to Deposit Ratio (LDR) di Provinsi Banten sebesar 153,94%, menurun dari 155,41% pada triwulan IV 2020.

“Dari sisi risiko, rasio Non Performing Loan (NPL) tercatat menjadi 2,59% dari sebelumnya 2,26% (yoy) walaupun masih di bawah threshold sebesar 5%. Sementara itu, dari sisi penyaluran kredit perbankan kepada sektor korporasi, posisi kredit mengalami kontraksi sebesar -4,41% (yoy). Penuruan penyaluran kredit korporasi didorong oleh penurunan pada kredit korporasi Industri Pengolahan, sektor Konstruksi, dan sektor Real Estate,” kata Erwin.

Berdasarkan data yang disampaikan Erwin, transaksi non-tunai melalui BI-RTGS tercatat mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, transaksi melalui SKNBI masih terkontraksi yang diyakini akibat meluasnya penggunaan QRIS terutama pada bisnis ritel sejalan bertambahnya merchant pengguna QRIS. Pada triwulan I 2021, total perputaran uang melalui KPw BI Provinsi Banten tercatat mengalami net outflow sebesar Rp1,12 triliun, menurun dibandingkan Rp3,98 triliun pada triwulan IV 2020, sesuai dengan pola musimannya.

“Penurunan outflow tersebut sebagaimana tren awal tahun setelah mengalami peningkatan pada momen HBKN Tahun Baru. Ke depannya, peningkatan realisasi pengeluaran pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan dan posisi geografis Banten yang menjadi penyangga Jakarta, diyakini dapat mendorong peningkatan perputaran uang di Banten. Dari sisi Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank, pada triwulan I 2021 jumlah transaksi jual-beli valuta asing senilai Rp632,88 miliar,” lanjut Erwin.

KPw BI Provinsi Banten akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan stakeholder terkait guna mendorong pertumbuhan ekonomi Banten. Terdapat beberapa hal yang kiranya menjadi key success factor mempercepat pemulihan ekonomi dengan memanfaatkan langkah-langkah terobosan, guna mendorong kinerja ekspor sejalan dengan perbaikan ekonomi global, terutama untuk industri alas kaki dan baja, serta UMKM Banten. Langkah sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan II 2021 di atas 3% secara year on year dan menjaga pencapaian inflasi di level stabil dalam kisaran nasional 3% ± 1%.

Ke depan, Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan OJK serta Kementerian/Lembaga terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah respon kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makro-ekonomi dan sistem keuangan, serta mendorong akselerasi pemulihan ekonomi. (bian)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

10,527FansSuka
6,768PengikutMengikuti
33,900PelangganBerlangganan
spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru